<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>NurHidayat dot net</title>
	<atom:link href="http://nurhidayat.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nurhidayat.net</link>
	<description>sedikit catatan diantara kesibukan</description>
	<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 07:11:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Angin duduk, masuk angin, darah kotor, dan darah manis</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=50</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=50#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 10:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Istilah awam seringkali berbeda dengan istilah medis. Meskipun demikian, masih bisa ditelusuri apa penyakitnya.
Banyak istilah penyakit yang beredar di masyarakat yang tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Seperti angin duduk, masuk angin, darah kotor, atau darah manis. Menurut dr. Bahdar T. Johan, Sp.PD., dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, meskipun banyak istilah awam yang tidak ditemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="storycontent">Istilah awam seringkali berbeda dengan istilah medis. Meskipun demikian, masih bisa ditelusuri apa penyakitnya.</p>
<p>Banyak istilah penyakit yang beredar di masyarakat yang tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Seperti angin duduk, masuk angin, darah kotor, atau darah manis. Menurut dr. Bahdar T. Johan, Sp.PD., dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, meskipun banyak istilah awam yang tidak ditemukan dalam dunia kedokteran, tapi pihak medis bisa menelusuri apa yang dimaksud. Biasanya lewat gejala-gejala yang dikeluhkan pasien.</p>
<p>Menurutnya, istilah awam ini muncul dari berbagai pengalaman yang dirasakan secara langsung. Angin duduk misalnya, menggambarkan angin yang terkurung dalam organ pencernaan. Lalu, jika bisul sering muncul di bagian tubuh tertentu saja, maka awam akan mengaitkannya dengan darah kotor.<span id="more-50"></span></p>
<p>Berikut istilah awam yang sering kita dengar.</p>
<p>ANGIN DUDUK</p>
<p>Yang dimaksud angin duduk oleh awam adalah perut kembung yang disertai rasa sakit menusuk, seperti ada gas atau udara yang terperangkap dalam rongga pencernaan. Gas ini mendesak dinding-dinding perut sehingga membuat anak sesak napas.</p>
<p>Angin duduk, seperti dijelaskan Bahdar, tidak memiliki padanan istilah dalam ilmu medis. Gejalanya, anak mengalami kesulitan mengeluarkan gas dari saluran cernanya. Penyebabnya bisa jadi gangguan di saluran usus yang bersifat ileus atau penyumbatan total.</p>
<p>Penyumbatan total bisa terjadi akibat gumpalan cacing, tumor, atau invaginasi pada anak yang biasanya disertai kolik (kembung) hebat, muntah-muntah, dan kadang-kadang demam. Ileus bisa juga disebabkan gangguan usus secara paralitik, yakni usus tidak mampu bekerja secara baik, kering, sehingga sulit mengeluarkan sisa hasil pencernaan, termasuk gas, melalui anus. Kemungkinan berikutnya, anak kekurangan kalium.</p>
<p>Gas yang terperangkap dalam organ pencernaan ini masuk ke perut berbarengan dengan makanan/minuman atau hasil dari pencernaan. Biasanya, setelah makan atau minum anak akan bersendawa atau buang angin. Kalau tidak, bisa berlanjut dengan gejala yang disebut angin duduk.</p>
<p>Seringkali pula awam mengaitkan kematian mendadak seseorang akibat terserang angin duduk. Hal ini memang mungkin terjadi, tetapi prosesnya tidak seperti yang dibayangkan awam. Bahdar menjelaskan, bila angin atau gas tidak dapat dikeluarkan segera, bakteri yang ada dalam usus akan berkembang dengan cepat. Selanjutnya, bakteri tersebut akan menyebar dan menembus sistem pertahanan di daerah usus, lalu masuk ke dalam aliran darah dan menimbulkan infeksi yang berat ke seluruh tubuh. “Hal inilah yang akan menyebabkan kematian,” jelas Bahdar.</p>
<p>Cara mengatasinya tergantung pada penyebab. Bila ileus, maka usus harus dibebaskan dari sumbatan dengan cara dibedah. Bila paralitik cukup dengan obat-obatan untuk merangsang pengeluaran gas. Kalau kekurangan kalium, maka diberi tambahan kalium.</p>
<p>“Pemberian obat-obatan biasanya dibarengi dengan tindakan konservatif, yakni memasukkan selang dari hidung masuk ke lambung untuk membuang gas dan makanan yang masih ada di atas lambung,” paparnya. Bila ada penyakit dasar lain, seperti radang pankreas atau kolik ginjal yang menyebabkan usus tidak berfungsi dengan baik, maka penyakit-penyakit tersebut harus diatasi secara bersamaan.</p>
<p>Memang, aku Bahdar, gejala serangan angin duduk hampir sama dengan serangan penyakit jantung, yang dinamakan sindroma serangan jantung. Gejalanya memang sulit dibedakan: perut kembung, nyeri di ulu hati, perih menusuk, sering bersendawa, dan sesak napas. “Pasien merasa sedang masuk angin, padahal dia mungkin terserang penyakit jantung.”</p>
<p>Untuk membedakan apakah gejala tersebut angin duduk atau serangan jantung bisa dibedakan dari masa serangannya. Angin duduk biasanya berproses cukup lama, bisa mencapai satu minggu, sedangkan sindroma serangan jantung, biasanya singkat, bisa satu atau dua hari. Namun, bila sebelumnya pasien sudah menderita penyakit jantung, bisa saja serangan angin duduk merupakan pemicu terjadinya serangan jantung.</p>
<p>MASUK ANGIN</p>
<p>Istilah ini pun tak dijumpai dalam ilmu kedokteran. Namun, pemakaiannya sudah sangat memasyarakat. Ketika otot pegal-pegal atau mengeras misalnya, masyarakat menganggapnya masuk angin. Padahal, setelah diteliti, di otot yang pegal tersebut tidak ada angin yang terperangkap.</p>
<p>Bahdar menjelaskan, mungkin yang dimaksud awam adalah gejala terperangkapnya angin di dalam rongga pencernaan yang kemudian mempengaruhi perasaan pasien yang akhirnya membuat badan terasa pegal dan tidak enak. Adanya udara yang terasa di seluruh tubuh, mungkin inilah yang dikatakan masuk angin. Namun, Bahdar mengakui, begitu pasien dipijat atau dikerok, keluhan masuk angin itu hilang. “Hal ini memang unik, karena dari apa yang terjadi tidak bisa dibuktikan secara medis.”</p>
<p>Berbagai penelitian kesehatan juga membuktikan, pijat dan kerok tidak secara langsung mengeluarkan angin dari bagian-bagian tubuh yang masuk angin. Pijat atau kerok sebenarnya merupakan rangsangan refleks terhadap rongga pencernaan untuk mengeluarkan udara, yang pengeluarannya bisa berupa sendawa atau buang angin. Selain itu, masuk angin biasanya terjadi pada orang yang terlalu letih atau stres, yang menimbulkan rasa nyeri di otot. Otomatis pijat dan kerok bisa merelakskan otot-otot yang tegang.</p>
<p>Namun, Bahdar mengingatkan, agar berhati-hati saat melakukan pengobatan sendiri. “Pijat bolehlah, tapi harus dilakukan oleh orang yang benar-benar pandai melakukannya.” anjur Bahdar, “Namun, kalau mengerok, jangan.”</p>
<p>Masalahnya, kerok menyebabkan lubang pori-pori menjadi lebih besar. Kerok pun dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah kapiler. “Warna merah yang muncul setelah kulit dikerok bukanlah tanda bahwa angin sudah keluar, tetapi tanda kalau pembuluh darah kapiler sudah pecah.” Sulitnya, kerokan sudah sangat memasyarakat dan sering dijadikan pengobatan alternatif untuk menyembuhkan penyakit yang diduga sebagai masuk angin tersebut.</p>
<p>DARAH KOTOR</p>
<p>Istilah darah kotor, kata Bahdar, merupakan persepsi salah yang sudah memasyarakat di kalangan awam. Masyarakat beranggapan bahwa darah yang kotor akan menimbulkan bisul, jerawat, kulit kemerahan, dan sebagainya. Persepsi ini semakin diperkuat oleh iklan produk obat tradisional di televisi.</p>
<p>Padahal, dalam dunia kedokteran, darah tidak ada yang kotor. Semua darah bersih dan dapat digunakan dengan baik. Memang, ada darah yang mengandung banyak CO2 (karbon dioksida, hasil dari metabolisme tubuh) dan sedikit O2 (oksigen), biasanya darah yang berada dalam pembuluh darah balik. Dalam dunia medis, darah ini harus melalui proses pembersihan sebelum digunakan untuk metabolisme kembali. “Proses pembersihan ini bukan berarti darah itu kotor, tetapi darah tersebut harus dibebaskan dari CO2 dan harus diisi O2,” tegas Bahdar.</p>
<p>Proses pembersihannya, setelah menyuplai beragam zat ke seluruh tubuh, darah kemudian balik ke jantung. Darah yang mengandung banyak CO2 kemudian masuk ke dalam bilik kanan jantung, kemudian dipompa ke paru-paru. Di paru-paru, darah tersebut disaring, CO2 dikeluarkan lewat napas yang keluar dan diisi O2. Setelah itu, darah akan masuk ke bilik kiri jantung dan dipompa ke ginjal. Di ginjal darah dibersihkan lagi dari kandungan racun, seperti kreatinin. Setelah dibersihkan, darah akan menyebar ke seluruh bagian tubuh.</p>
<p>Namun, bila terjadi masalah pada jantung, paru-paru, dan ginjal, kebersihan darah sangat mungkin terganggu. Dalam situasi seperti ini, bisa saja darah menjadi kotor. Misalnya, kebocoran pada jantung bisa menyebabkan tercampurnya darah yang belum dibersihkan dengan darah yang sudah bersih, TBC bisa menyebabkan kadar CO2 menumpuk, dan gagal ginjal bisa menyebabkan zat racun menetap di dalam darah. Tak heran bila orang berpenyakit paru yang sudah kronis, kadar CO2-nya sangat tinggi.</p>
<p>Namun, anggapan darah yang kotor ini tidak seperti yang dibayangkan oleh awam. “Awam, kan, membayangkan darah kotor akan menyebabkan bisul, jerawat, atau yang lainnya, padahal tidak demikian.” Tumbuhnya bisul atau jerawat bukan karena darah yang kotor melainkan karena kulit yang bermasalah. Misalnya, infeksi kelenjar minyak pada kulit, yang akhirnya membuat kuman masuk ke dalam dan timbullah bisul atau yang lainnya, atau juga karena alergi.</p>
<p>DARAH MANIS</p>
<p>Seringkali awam mengidentikkan darah manis dengan mudahnya anak terluka akibat gigitan nyamuk. Padahal, menurut Bahdar, persepsi ini salah.</p>
<p>Bila anak mudah bentol, teriritasi, terinfeksi, dan sulit sembuh kala digigit serangga, hal ini bukan karena darahnya manis, melainkan lebih karena asma kulit. Mungkin anak menderita prurigo, semacam alergi kulit, yang membuatnya mudah sekali bentol, teriritasi, atau terinfeksi.</p>
<p>Seringkali darah manis ini dihubungkan dengan penyakit kencing manis/diabetes. Alasannya, penderita diabetes pun punya kecenderungan hampir sama, yaitu luka pada tubuhnya sulit sembuh. Namun, tidak begitu dengan darah manis.</p>
<p>RABUN AYAM</p>
<p>Rabun ayam memang istilah awam, tetapi ada padanan istilah kedokterannya, yaitu rabun senja. Ketika senja, ayam sulit melihat dengan baik. Nah, gangguan seperti itu disebut rabun ayam.</p>
<p>Rabun ayam atau rabun senja disebabkan kekurangan vitamin A. Bila kekurangan ini dibiarkan saja, tanpa ada perawatan yang baik, kemungkinan lanjutannya adalah anak menjadi buta. “Namun, proses kebutaan tidak terjadi secara langsung. Kasusnya pun sudah sangat jarang ditemui.”</p>
<p>Untuk mengatasinya diperlukan konsumsi vitamin A yang cukup. Sumbernya bisa suplemen vitamin A atau buah-buahan yang banyak mengandung vitamin A, seperti tomat dan wortel. Konsumsi vitamin A secara baik biasanya akan menyembuhkan anak dari rabun senja. Rabun senja ini bersifat tidak permanen.</p>
<p>PARU-PARU BASAH</p>
<p>Istilah ini mungkin muncul karena awam beranggapan paru-paru anak memang benar-benar basah. “Memang,” aku Bahdar, “ada semacam cairan di rongga pleura bagian bawah, yang dinamai efusi pleura, jadi bukan di paru-paru.”</p>
<p>Pleura adalah satu rongga yang memiliki dua selaput. Rongga ini berada di luar paru-paru, tepatnya di sekeliling paru-paru. Bila ada radang di pleura ini, maka akan muncul cairan. Cairan yang banyak akan menumpuk di dalam rongga tersebut dan sulit untuk dikeluarkan.</p>
<p>Peradangan pleura di Indonesia paling sering disebabkan penyakit TBC. Radang di dalam paru-paru ini akan menembus pleura yang lalu menimbulkan cairan. Selain TBC, cairan bisa muncul bila paru-paru terkena bronkhitis, tumor, bahkan masalah di luar paru-paru, seperti demam berdarah, kekurangan albumin, dan lain-lain.</p>
<p>Cairan muncul karena peradangan paru-paru mengganggu permeabilitas (keadaan zat yang memungkinkan lewatnya zat lain)pembuluh darah dan saluran getah bening di daerah tersebut sehingga cairan merembes masuk. “Perlu diingat, cairan tersebut bukan merupakan lendir dari saluran napas atas yang turun ke bawah, tetapi muncul karena peradangan,” tandas Bahdar. Rongga pleura sama sekali tidak tersambung ke rongga napas bagian atas sehingga sulit untuk dikeluarkan.</p>
<p>Tingkat bahaya penyakit ini tergantung pada penyakit dasarnya. Bila disebabkan tumor atau kanker, maka sangat berbahaya. Sedangkan bila karena TBC, infeksi nonspesifik, kekurangan albumin, atau kuman demam berdarah, biasanya tidak terlalu serius.</p>
<p>Cara menanggulanginya bisa dengan pengobatan antibiotik untuk meredakan peradangan, penguatan daya tahan tubuh, serta meredakan sesak. “Biasanya kalau sudah menimbulkan gejala sesak napas akan dilakukan penyedotan cairan pleura, karena cairan ini tidak bisa dikeluarkan lewat batuk,” tandas Bahdar.</p>
<p>—<br />
dari milis id-gmail, diposting oleh Andriansah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=50</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nyata: Aku Datang Maisya</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=48</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 10:49:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<category><![CDATA[jodoh]]></category>

		<category><![CDATA[murabbi]]></category>

		<category><![CDATA[nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.
Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Ada</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial"> juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani “prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.</span><span id="more-438"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Langsung saja kukatakan pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.<span id="more-48"></span></span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tapi kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Lewat kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya. Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu mengungkapkan niatku untuk menikahinya, apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya (guru/pembimbing).</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul walidain adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun. Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan). </span></p>
<p style="text-align: center" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">***</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Pada hari Ahad kuajak 2 teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar akhirnya sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan “Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan agak kecewa, sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik menyengat.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kutelepon Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya dengan menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung. Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering kuikuti kajiannya, sampai buku-buku yang sering kubaca. Juga, pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Dengan polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang membuatku heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai, nada MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa begitu.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Aduh, kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya MR, maka ente otomais akan ditolak. Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz, buku-buku dan para syeikh Timur Tengah, bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer).”</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Lho kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya tadi, liqa’? Ya memang aku tak ikut. Ane juga nggak punya MR dong. Oo.., jadi begitu ya?” aku hanya melongo. </span></p>
<p style="text-align: center" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">***</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Beberapa hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Assalamu’alaikum, akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum menakdirkan kita berjodoh. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita, saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama ini, Assalamu’alaikum,” </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Kletuk, nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut. Kutaruh gagang telpon dengan lunglai. “Astagfirullah,” kusebut kata-kata itu berulang kali. Apa yang harus kuperbuat? Tak tahu harus bagaimana. Tapi sohib dekatku yang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk .</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Ditolak ya? Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain ngejar-ngejar ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku jawab saja dengan ketus, “Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam pemolakan it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Udah deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Ternyata bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam, padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Hatiku sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. “Apa yang harus kuperbuat?” kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru begitu saja kok nyerah.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tanpa sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orangtua Maisya. Yang kutahu bahwa dia hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun. Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu. Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Dengan penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu sampai di tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu? Untuk beberapa hari tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang harus kulakukan?</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kuputuskan untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di penghujung surat tersebut kukatakan, “Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh, saya punya satu permintaan, tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya.” </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kupikir Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan “rayuan gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Surat kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu Maisya dan kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya, Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat tersebut. </span></p>
<p style="text-align: center" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">***</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Seminggu kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab” , dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Baiklah, kakak sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya? </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Hatiku berbunga-bunga mendengarnya,. Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak Dahlia.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Begini aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu.”</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh doa, semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah itu kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang aku harus bertemu langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan sedikit gagap aku iyakan undangan itu. “Besok deh Kak, insyaAllah saya datang,” jawabku.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya. Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya? Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya. Tunggu saja deh. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tidak lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku tetap menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri pandang, karena memang dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali. Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya, subhanallah! </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tak sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan? Kenapa rasanya agak grogi? Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini. Obrolan pun mulai bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanyaan agama secara umum sampai diskusi tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu jam aku di rumah itu. Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Di bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok. Tapi semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil.</span><span lang="IT"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Ternyata benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan kelanjutan proses kami kemarin. Kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku di waktu yang kutentukan. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan tawaranku. </span><span lang="IT"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kutanya ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya. Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia akan terima. Duh…, senangnya.</span><span lang="IT"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Sebelumnya aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan, ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya anak. Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib. Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib.</span><span lang="IT"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Satu hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di depan mataku adalah ditolak.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana aku punya mobil sedangkan aku baru bekerja setahun? Sambutan hambar kudapatkan ketika memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kemudian acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri. Saat itu pun tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Diakhir acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti. Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya. Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau menyebutkan. Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Setelah acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan. Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Ternyata ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang lain. Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga. Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan juga perhiasan. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Apa yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa pelamar kedua ini. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan? Maisya tak mau menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Bahkan setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan? “Kembalikan semua barang bawaannya dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan, kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Mendengar semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku.</span></p>
<p style="text-align: center" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">***</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Beberapa hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya. Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Dengan nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku. “Saya kasih tau ya! Kamu kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) kan sudah punya kerjaan, rumah besar, mobil ada dua. Jadi, kamu batalkan lamaran. Biar Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari yang lain.” </span><span lang="ES"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Hhh! Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tapi aku langsung kontrol diri. Aku jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya, aku tak akan pernah membatalkan lamaranku. Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting, padahal jawabanku belum selesai.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Suatu hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun ke kantorku. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku, “Kamu yang melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu saja sudah belagu,” cerocosnya. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Mohon tenang dulu, apa masalahnya? Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,” sambutku dengan sabar.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Kamu tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah muter-muter mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu mau mempermainkan kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Tidak!” jawabnya ketus. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">“Aaah udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya. “Eh aku kasih tau ya, kau tuh jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Dengan sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti ente, pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan.</span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Kejadian itu membuat hatuku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam. </span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Yang jelas sebelum aku tanda tangan </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">surat</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial"> nikah yang disediakan penghulu, maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya. Semuanya bisa terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Dari telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya memberi pilihan: batal nikah atau putus hubungan keluarga. </span></p>
<p style="text-align: center" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">***</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Undangan mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">kota</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial"> tempat Maisya tinggal. Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Hari H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika ditanya, “Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini? Tapi jangan merasa berat dan terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku tapi perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit. Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini. Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Panitia pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan ini harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam. Aku tak peduli.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Keluarga Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya. Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas kutolak mentah-mentah. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Ada juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tibalah saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang saudara marinir. Aku telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap. Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan. </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Karena pengamanan Allah lebih kuat, bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam hari “H” dia datang dan siap menghadiri acara nikah besoknya. </span><span lang="SV"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Aku minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther, bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Dengan sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya. </span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Tangisku meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin dahsyat saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang mendampingiku.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Subhanallah, aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”. Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya.</span><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Suami Maisya</span></em><span lang="FI"></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial">Diambil dari Buku “Semudah Cinta Di Awal Senja” Terbitan Nikah Media Samara<br />
Sumber: <a href="http://maramissetiawan.wordpress.com/2008/06/16/kisah-nyata-aku-datang-maisya/" target="_blank">Maramis</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=49</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=49#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 09:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[dracula]]></category>

		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Dracula:Fakta yang Menjadi Fiksi
(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku &#8220;Dracula, Pembantai Umat Islam dalam
Perang&#8221; di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)
Oleh: Ragil Nugroho
Sejarah semestinya menjadi cermin paling jernih bagi umat manusia untuk menatap
masa depan. Tetapi bagaimana kalau sejarah telah dibelokan oleh kelompok
pemenang?
Sejarah Superhero
Filsuf dan sekaligus aktivis gerakan kiri Italia, Antonia Gramsci, dalam
teorinya tentang hegemoni (peracunan kesadaran), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dracula:Fakta yang Menjadi Fiksi</strong></p>
<p>(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku &#8220;Dracula, Pembantai Umat Islam dalam<br />
Perang&#8221; di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)</p>
<p>Oleh: Ragil Nugroho</p>
<p>Sejarah semestinya menjadi cermin paling jernih bagi umat manusia untuk menatap<br />
masa depan. Tetapi bagaimana kalau sejarah telah dibelokan oleh kelompok<br />
pemenang?</p>
<p><strong>Sejarah Superhero</strong><br />
Filsuf dan sekaligus aktivis gerakan kiri Italia, Antonia Gramsci, dalam<br />
teorinya tentang hegemoni (peracunan kesadaran), mengungkapkan bahwa seringkali<br />
sejarah ditentukan oleh kekuasaan yang menang. Sejarah semacam ini akan memuja<br />
kelas yang berkuasa dan sekaligus mencemooh kelas yang kalah; ia hanya akan<br />
berbicara tentang para raja bukan tentang para kawula. Akibatnya, kelas yang<br />
subaltern (dikalahkan) harus berada di luar gelanggang sejarah, yang artinya<br />
tidak mempunyai peran apa-apa dalam sejarah. Sehingga tepat kalau sejarah jenis<br />
ini disebut sejarah &#8220;Superhero&#8221;.<span id="more-49"></span></p>
<p>Lebih lanjut Gramsci dalam bukunya yang cukup fenomenal, Notes on Italian<br />
History (1934), menuturkan bahwa sebetulnya kelas subaltern—mereka ini terdiri<br />
dari petani, buruh, kaum miskin perkotaan, gelandangan dan kelompok-kelompok<br />
lain yang termarjinalkan— mempunyai sejarah sendiri yang tidak kalah kompleksnya<br />
dengan sejarah kelas yang berkuasa. Akan tetapi, akibat posisi yang tertindas<br />
membuat mereka tak bisa menuliskan sejarah mereka sendiri dan harus menerima<br />
&#8220;sejarah resmi&#8221; yang dibuat oleh kelas yang berkuasa.</p>
<p>Teori yang dikemukan Gramsci di muka sangat tepat untuk melihat penulisan sejarah<br />
yang dominan dewasa ini. Apa yang dikatakan oleh Gramci itu tampak demikian<br />
kasat mata. Di antara sekian banyak negara, Amerika Serikat merupakan salah satu<br />
negara yang gemar memproduksi sejarah superhero. Agar gampang melihat<br />
fakta-faktanya tengok saja film-film produksi mereka seperti Supermen, Batman,<br />
Rombo dan lain sebagainya. Dalam kasus film Rambo misalnya, terlihat dengan<br />
jelas bagaimana Amerika Serikat ingin selalu menjadi bangsa pemenang walaupun<br />
mereka mengalami kekalahan telak di Vietnam. Mereka ingin tetap menjadi<br />
superhero walaupun sebetulnya telah terpuruk. Selaian yang dilakukan oleh<br />
Amerika Serikat, sejarah superhero bisa dilihat dari sejarah para<br />
diktator—semisal Stalin, Hilter, Mao. Para diktator tersebut berusaha<br />
mengagung-agungkan sejarahnya sendiri agar diri mereka layak disebut superhero.<br />
Apabila ada sejarah yang berlawan dengan yang mereka mauni maka akan dibungkam<br />
untuk selama-lamanya.</p>
<p>Dalam khazanah penulisan sejarah di Indonesia sejarah superhero juga akan banyak<br />
kita dapatkan. Para penguasa berusaha agar nama mereka digoreskan dengan tintas<br />
emas, sebagai pahlawan, sementara musuh-musuh mereka harus dikutuk menjadi<br />
manusia jahat atau menjadi hewan. Hal ini terlihat jelas dalam sejarah para raja<br />
pada masa feodal. Erlangga misalnya, menjadikan Calon Arong—musuh<br />
politiknya—sebagai tukang sihir yang suka mandi darah. Senopati juga melakukan<br />
hal serupa, dengan tipu daya khas seorang Machialevis, menuduh Ki Ageng Mangir<br />
sebagai pemberontak yang layak dibunuh. Atau, bagaimana Sangkuriang dikisahkan<br />
dalam wujud manusia yang berubah menjadi seekor anjing akibat penentangannya<br />
terhadap kekuasaan yang dominan saat itu. Melangkah pada zaman yang lebih<br />
modern, sejarah superhero ini terus berlanjut. Hal ini sangat kesat mata ketika<br />
Soeharta berkuasa. Ia buat sejarahnya sendiri sebagai pahlawan dalam Serangan<br />
Umum 1 Maret dan sebagai penumpas gerombolan liar PKI<br />
yang katanya akan merongrong Pancasila. Sebagaimana para leluhurnya yang gila<br />
akan nama kebesaran—raja- raja Mataram selalu bergelar Hamengkubuwona (pemangku<br />
dunia) dan Pakubuona (paku dunia)—Soeharto pun mengangkat dirinya sebagai Bapak<br />
Pembangunan. Sejarah-sejarah seperti inilah yang menjadi &#8220;sejarah resmi&#8221; di<br />
Indonesia hingga saat ini. Bisa dikatakan bahwa manusia Indonesia sejak dalam<br />
kandungan sampai akan menjemput ajal dicecoki oleh sejarah superhero.</p>
<p>Dalam bandul sejarah yang condong pada sejarah superhero itulah bayang-bayang<br />
mitos begitu kuatnya sehingga menelan fakta. Ia telah menelusup pada pola pikir<br />
masyarakat. Mitos-mitos baru pun terus-menerus direproduksi. Tak sadar bahwa<br />
mitos-mitos tersebut telah melenakan dan semakin melapukkan sejarah itu sendiri.</p>
<p><strong>Penjajahan Sejarah</strong><br />
Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Orientalisme, Erdwad W Said, memaparkan<br />
tentang dominasi Barat dalam menciptakan pandangan tunggal. Ia memaparkan bahwa<br />
Barat membuat penilian tentang Timur. Dalam pandangan Barat, Timur merupakan<br />
sekumpulan bangsa irasional, lemah-lembut dan eksotis. Sedangkan dalam<br />
memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri mereka menyebut sebagai bangsa<br />
yang rasional, penuh perhitungan dan dinamis. Dengan penilian seperti itu bangsa<br />
Barat ingin memberikan citra bahwa mereka berbeda dengan bangsa lain yang ada di<br />
Timur.</p>
<p>Tak terasa, penilian yang dilakukan oleh Barat tersebut termakan oleh<br />
bangsa-bangsa Timur. Mereka menjadi alpa menilai diri mereka sendiri dan<br />
menyerahkan semuanya terhadap Barat. Mereka memandang diri mereka lebih rendah<br />
dari Barat. Mereka merasa tak layak hidup sejajar dengan Barat. Dari proses<br />
seperti inilah penjajahan sejarah bermula, dan kemudian berujung pada penjajahan<br />
sebuah bangsa.</p>
<p>Memang masih jarang yang mengupas penjajahan sejarah ini. Para aktivis maupun<br />
intelektual selama ini gaduh berdebat tentang penjajahan ekonomi dan politik,<br />
masih jarang memperdebatkan penjajahan sejarah ini. Padahal penjajahan sejarah<br />
tak kalah berbahaya dari bentuk-bentuk penjajahan yang lainnya. Apabila hal ini<br />
tak dilawan maka apa yang pernah dikatakan Milan Kundera, &#8220;maka tak lama setelah<br />
itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa<br />
lampau, akan benar-benar mewujud.</p>
<p>Sebuah bangsa yang telah terjajah sejarahnya akan tumbuh menjadi bangsa yang<br />
rapuh. Mereka akan kehilangan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Mereka akan<br />
lupa tentang jati dirinya. Maka ketika suatu bangsa sudah kehilangan kepercayaan<br />
diri dan buta akan dirinya sendiri, ia akan mudah terombang-ambing. Akibatnya,<br />
sebagai pegangan mereka akan berpegangan pada bangsa yang menurut mereka lebih<br />
&#8220;kuat&#8221; dan &#8220;maju&#8221;. Dan, secara tak sadar mereka telah jatuh pada cengkraman<br />
negara lain.</p>
<p>Penjajahan sejarah ini sangat efektif untuk melakukan penjajahan terhadap sebuah<br />
bangsa secara keseluruhan. Sebagai contoh adalah yang akhir-akhir ini<br />
digembor-gemborkan oleh AS dan sekutunya tentang terorisme. Mereka menciptakan<br />
sejarah baru bahwa Afganistan dan Irak merupakan sarang teroris. Dengan sejarah<br />
rekaan tersebut telah melapangkan jalan bagi mereka untuk melakukan<br />
invasi/penjajahan. Alasan mereka yang sebenarnya—menguasi sumber minyak di Timur<br />
Tengah—bisa mereka tutup-tutupi dengan dalih mengejar gembong teroris.</p>
<p>Arnold Toynbee dalam karyanya Mankind and Mother Earth A Narrative History of<br />
Word (1975), memberikan pemaparan bahwa penjajahan sejarah telah membuat sejarah<br />
hanya berisikan masa lalu yang mengarah pada kuasa pengaruh Barat. Akibatnya,<br />
peristiwa-peristiwa masa lalu lainnya dianggap tidak relevan dan karena oleh itu<br />
bisa diabaikan. Lebih lanjut Toynbee memberikan uraian bahwa akibat westernisasi<br />
sejarah tersebut, negara-negara yang terbaratkan menjadi subordinat dan<br />
terpinggirkan.</p>
<p><strong>Membongkar Sebuah Kebohongan</strong><br />
Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang<br />
begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang<br />
kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula<br />
merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula<br />
dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian<br />
semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of<br />
Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)—yang dibuat ulang<br />
pada tahun 1979—dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.</p>
<p><strong>Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?</strong></p>
<p>Dalam buku berjudul &#8220;Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib&#8221; karya<br />
Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini<br />
dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul.<br />
Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari<br />
menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan<br />
antara Kerajaan Turki Ottoman—sebagai wakil Islam—dan Kerajaan Honggaria—sebagai<br />
wakil Kristen—semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling<br />
mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang<br />
berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya<br />
Konstantinopel— benteng Kristen—ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.</p>
<p>Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan<br />
Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat<br />
Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000<br />
ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara—yang<br />
cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab—yaitu dibakar hidup-hidup,<br />
dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara<br />
penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu<br />
sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah<br />
ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut,<br />
kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan<br />
berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:<br />
&#8220;Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai.<br />
Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang<br />
telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan<br />
segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini<br />
sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi<br />
mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.&#8221;</p>
<p>Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi.<br />
Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat<br />
begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang<br />
di kayu sula untuk menjemput ajal.&#8221;</p>
<p>Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini<br />
disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab.<br />
Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa<br />
dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib<br />
menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang<br />
getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok<br />
mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang<br />
sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun<br />
kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat<br />
ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar<br />
sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang<br />
segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.</p>
<p>Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa<br />
sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya<br />
fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang<br />
sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok<br />
Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini<br />
dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat—khususnya umat Islam sendiri—yang<br />
mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa<br />
dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa<br />
dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang<br />
sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.</p>
<p>Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia<br />
juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui<br />
bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari<br />
dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda<br />
tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan<br />
simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh<br />
mereka—pahlawan dari pihak Islam—dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas<br />
mereka.</p>
<p>Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan<br />
Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan<br />
penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah<br />
mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan<br />
ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa<br />
mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa<br />
dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan<br />
Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling<br />
superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha<br />
Barat ini bisa dikatakan berhasil.</p>
<p>Selain yang telah dipaparkan di atas, buku &#8220;Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam<br />
Perang Salib&#8221; karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama<br />
tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas.<br />
Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan<br />
jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang<br />
Dracula yang lainnya.</p>
<p>Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu<br />
penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang<br />
lain—politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara<br />
halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di<br />
dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat<br />
dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku<br />
karya Hyphatia ini—walaupun masih merupakan langkah awal—bisa dijadikan<br />
pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan<br />
sejarah itu begitu nyata ada di depan kita. [*]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=49</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema Simalakama</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=47</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=47#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 04:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Realitas]]></category>

		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>

		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[pilkada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Pemuda Khoirul (K): Sungguh naif, ironis, mengherankan, sangat tidak masuk akal&#8230;!!!
Pak Sholeh (S): Lho..lho&#8230;lho..ada apa Nak Khoirul? Apa yang sedang mengganggu fikiranmu?
K: Itu lho Pak, sementara orang-orang kafir sedang sibuk mempersiapkan Program &#8220;Jusuf 2004″, yaitu sebuah program agar pada Pemilu nanti Presiden kita dijabat oleh orang Kristen, eh malah ada orang yang membid&#8217;ahkan partai politik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pemuda Khoirul (K): Sungguh naif, ironis, mengherankan, sangat tidak masuk akal&#8230;!!!</strong></p>
<p>Pak Sholeh (S): Lho..lho&#8230;lho..ada apa Nak Khoirul? Apa yang sedang mengganggu fikiranmu?</p>
<p><strong>K: Itu lho Pak, sementara orang-orang kafir sedang sibuk mempersiapkan Program &#8220;Jusuf 2004″, yaitu sebuah program agar pada Pemilu nanti Presiden kita dijabat oleh orang Kristen, eh malah ada orang yang membid&#8217;ahkan partai politik, sungguh aneh!</strong></p>
<p>S: Lho, tenang dulu Nak Khoirul, sabar. Ananda kan orang yang selalu berkata agar menghargai pendapat orang lain, kenapa sekarang ananda tidak konsisten?</p>
<p><strong>K: Astaghfirullah, Pak Sholeh benar. Saya cuma heran, kenapa mereka bisa berpendapat seperti itu, padahal sebagian dari mereka itu kan cendekiawan, intelektual, bahkan para ulama yang memperjuangkan Islam?</strong></p>
<p>S: Tentunya mereka mempunyai alasan untuk berpendapat seperti itu. Dan seperti Nak Khoirul sering katakan, pendapat seseorang itu harus kita hargai. Betulkan? Baiklah, sekarang saya akan mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain. Saya lihat, sebenarnya dalam permasalahan yang sedang ananda fikirkan itu ternyata ada 2 permasalahan berbeda.</p>
<p><strong>K: Maksud Bapak?</strong></p>
<p>S: Yang pertama adalah permasalahan Program Jusuf 2004, yang kedua adalah permasalahan pembid&#8217;ahan partai politik. Kedua permasalahan itu telah datang pada masa yang berbeda, dan kedua-duanya tidak saling berkaitan pada awalnya. Jadi tidak benar ketika ada Program Jusuf 2004, lalu ada orang-orang yang mencounternya dengan mengatakan bahwa partai politik itu bid&#8217;ah. Janganlah dikesankan seperti itu, ananda harus bijaksana dalam menyimpulkan suatu permasalahan.</p>
<p><strong>K: Jadi, bagaimana Bapak melihat permasalahan ini?</strong></p>
<p>S: Permasalahan pembid&#8217;ahan partai politik itu telah dibahas para ulama sejak zaman munculnya demokrasi, bahkan kalau diqiyaskan, masalah itu telah dibahas dalam kitab-kitab ulama terdahulu. Para ulama tersebut tentunya mempunyai dalil, argumen yang berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi dan dengan beberapa catatan penting tentang demokrasi. Adapun permasalahan Jusuf 2004 adalah permasalahan baru, yang butuh untuk difikirkan dan dipecahkan bersama, termasuk oleh para ulama tersebut. Saya yakin, sangat tidak mungkin bagi para ulama yang memfatwakan bid&#8217;ahnya partai politik itu akan tinggal diam atau bahkan menganjurkan untuk golput, sementara kaum kafir sedang serius mengincar kursi presiden. Sekali lagi, ananda harus sedikit bijaksana dalam berfikir, ananda harus tabayyun dengan mereka.</p>
<p><strong>K: Baiklah, sebagai seorang muslim, apa yang akan Bapak lakukan dalam mensikapi program &#8220;Jusuf 2004″ itu?</strong></p>
<p>S: Sesuai dengan kemampuan masing-masing, karena Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali dengan apa yang kira-kira menjadi kewajibannya. Sebagai seorang ustadz, maka saya berkewajiban untuk mengumumkan program kristenisasi ini kepada kaum muslimin agar mereka tahu bahwa musuh sedang mengincar kita. Kita harus marah di mimbar-mimbar, masjid-masjid dan majlis ta&#8217;lim.</p>
<p><strong>K: Lalu, apa tindakan konkritnya?</strong></p>
<p>S: Nah, orang-orang kafir itu kan sasarannya adalah Pemilu, mereka pasti akan menyusup kepada partai-partai yang berkedok nasionalisme dan mengelabui kaum muslimin. Maka tidak ada cara lain kecuali kita serukan kepada kaum muslimin agar mencoblos partai-partai Islam yang berjuang untuk Islam dan membela kaum muslimin.</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, partai-partai manakah yang Bapak anjurkan untuk dicoblos?</strong></p>
<p>S: Tidak mengapa partai apapun, asalkan partai Islam. Namun sebaiknya kita memilih partai yang kita lihat mempunyai jalan yang lebih dekat kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.</p>
<p><strong>K: Saya setuju sekali Pak, tidakkah sebaiknya kita bergabung dengan mereka?</strong></p>
<p>S: Ya ananda benar sekali, saya siap bergabung dengan mereka dalam segala bentuk amar ma&#8217;ruf nahi munkar bil hikmah. Sedangkan memberitahukan kaum muslimin tentang program Jusuf 2004 ini adalah juga bagian dari amar ma&#8217;ruf nahi mungkar tadi. Sekali lagi insya Allah saya siap. Bukankah begitu yang ananda maksud?</p>
<p><strong>K: Maksud saya, kita bergabung dengan salah satu partai tersebut, memakai baju mereka dan berdakwah dengan cara mereka.</strong></p>
<p>S: Oh begitu maksud ananda. Baiklah, kalau begitu tolong ananda amati pada partai manakah akan saya dapati sifat-sifat hizbullah, karena Allah hanya memerintahkan saya untuk bergabung dengan partai tersebut.</p>
<p><strong>K: Setahu saya, semua partai Islam mengatakan bahwa mereka memperjuangkan Islam, tentunya mereka semuanya hizbullah.</strong></p>
<p>S: Hizb-Allah itu cuma satu, karena dalam Al-Qur&#8217;an, Allah menggunakan kata &#8220;Hizb&#8221; (singular) yang artinya &#8220;sebuah partai.&#8221;</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, tolong Bapak rincikan dulu sifat-sifat hizbullah itu, baru nanti akan saya cocokkan dengan partai-partai yang ada.</strong></p>
<p>S: Baiklah, sebenarnya banyak sifat-sifatnya, tapi saya akan sebutkan satu sifat saja, yaitu mereka senantiasa menjaga dan mengusahakan persatuan kaum muslimin, karena Allah telah memerintahkan kita untuk bersatu dan melarang bercerai berai.</p>
<p><strong>K: Setahu saya, semua partai Islam juga menyerukan kepada persatuan ummat.</strong></p>
<p>S: Kalau memang mereka semua berkata begitu, lalu mengapa mereka tetap berusaha mengeksistensikan partainya masing-masing. Kadang-kadang kalau ada masalah, hanya nama partai yang diganti, tidak berusaha untuk mengajak semua partai Islam untuk melebur. Apakah menurut ananda persatuan itu akan terwujud dengan satu partai atau banyak partai? Bahkan di Indonesia, satu partai saja bisa beranak jadi 2. Ananda harus selalu ingat, bahwa Persatuan Islam itu ibarat sebuah lingkaran besar. Biarkanlah lingkaran besar kaum muslimin itu tetap satu, jangan dibagi-bagi menjadi lingkaran-lingkaran kecil.</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, saya yakin pasti Partai Pak Ahmad itulah partai Hizbullah, karena dalam kampanye mereka, mereka lebih sering menyerukan kepada persatuan kaum muslimin.</strong></p>
<p>S: Saya ingin balik bertanya, apakah sewaktu mengatakan tentang persatuan itu dalam kampanye mereka, mereka memakai suatu atribut khusus?</p>
<p><strong>K: Ya, tentu mereka memakai lambang, bendera dan seragam mereka.</strong></p>
<p>S: Nah, hal itu sudah cukup kita katakan bahwa mereka telah membuat sebuah lingkaran kecil di dalam sebuah lingkaran besar. Karena lingkaran besar Islam tidak mempunyai lambang, bendera dan seragam. Bahkan hal itu pun sudah cukup untuk membuat orang Islam yang lain merasa berbeda dengan ummat Islam yang memakai atribut dan seragam tersebut.<span id="more-47"></span></p>
<p><strong>K: Tapi Pak Ahmad sering mengatakan bahwa mereka tidak menuntut untuk dipilih, yang penting kita memilih salah satu partai Islam. Bukankah ini kalimat yang haq?</strong></p>
<p>S: Seandainya mereka menyerukan agar Ummat Islam memilih mereka, atau mengajak bergabung menjadi anggota partai mereka, maka inilah yang saya namakan membuat lingkaran kecil. Namun apabila mereka menyerukan untuk memilih partai apa saja asalkan partai Islam, maka perkataan ini adalah hipokrit, karena jelas-jelas setiap partai itu mempunyai target. Adapun target adalah harapan, harapan tentunya akan dibarengi dengan usaha untuk mencapainya, yaitu mengajak manusia. Lalu untuk apa ditentukan target?</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, apa konsep Persatuan Islam menurut Bapak?</strong></p>
<p>S: Yaitu sebuah lingkaran besar kaum muslimin yang mengatakan Lailaaha illallah Muhammaddarrasulullah, menjalankan kitabullah, Sunnah Nabi serta Ijma para shahabat. Maka mereka itu adalah saudara, sehingga wajib dibela. Yang di luar lingkaran itu adalah musuh.</p>
<p><strong>K: Kalau melihat konsep yang sederhana itu, saya berkesimpulan bahwa Islam itu ya Islam, tidak butuh lagi dengan organisasi atau perkumpulan. Bukankah begitu?</strong></p>
<p>S: Organisasi/perkumpulan itu bisa saja diperlukan, yaitu sebagai sarana bagi kita untuk mempermudah dakwah dan menyerukan manusia kepada lingkaran besar Islam. Tapi kalau organisasi/perkumpulan/kelompok/partai itu didirikan untuk mengajak manusia masuk kepada kelompok mereka, maka mereka telah membuat sebuah lingkaran kecil di dalam lingkaran besar kaum muslimin. Organisasi seperti inilah yang justru akan memecah belah ummat. Imam Malik berkata, apabila anda melihat suatu kelompok dalam Islam yang menyerukan Ummat Islam masuk kepada kelompoknya, bukan menyerukan kepada Islam, maka ketahuilah bahwa kelompok itu adalah sesat. Ini bukan kata saya, ini kata Imam Malik.</p>
<p><strong>K: Tapi, pada kenyataanya ummat Islam itu sendiri telah berkelompok-kelompok, dan setiap kelompok mempunyai ciri-ciri tertentu, apa tanggapan Bapak?</strong></p>
<p>S: Ananda jangan heran, itu adalah realita yang telah dikabarkan oleh Nabi. Namun demikian, kita tidak boleh pasrah, kita dituntut untuk terus berusaha kepada persatuan ummat dan jangan bercerai berai karena itu adalah perintah Allah dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, bagaimana kalau kita rangkul saja semua kelompok-kelompok Islam itu, mulai dari syi&#8217;ah yang menghujat para shahabat sampai semua kelompok di kalangan ahlu sunnah, yang penting mereka mengaku Tuhan kami adalah Allah dan Nabi kami adalah Muhammad. Lalu kita berjuang dalam sebuah partai untuk kemenangan Islam dan untuk sementara tidak memperselisihkan perbedaan.</strong></p>
<p>S: Ide yang tidak terlalu jelek, saya hargai pendapat ananda. Namun sayangnya, cara seperti itu tidak akan pernah berhasil di dalam konsep demokrasi itu sendiri.</p>
<p><strong>K: Maksud Bapak?</strong></p>
<p>S: Coba ananda fikirkan, anggap saja dengan cara itu akhirnya ummat Islam akan meraih suara terbanyak dan menang, lalu apa kira-kira yang akan terjadi?</p>
<p><strong>K: Tentunya kita bisa menerapkan hukum Islam dengan leluasa.</strong></p>
<p>S: Hukum Islam yang bagaimana? Yang sesuai dengan Kitab wa sunnah seperti pada zaman Nabi dulu, atau Hukum Islam yang bisa mengakomodasi seluruh pemahaman yang ada pada kelompok-kelompok yang bersatu tadi? Karena ananda harus ingat, di dalam konsep demokrasi, setiap orang berhak untuk menuntut haknya. Kaum syi&#8217;ah akan meminta masjid untuk menghujat para shahabat, kaum sunni quburiyyun akan tetap minta diperbolehkan berkunjung ke kuburan-kuburan. Semua sekte yang telah berhasil memenangkan partai tersebut, akan meminta hak untuk beribadah sesuai dengan cara mereka, atas nama demokrasi.</p>
<p><strong>K: Jadi menurut Bapak, tidak mungkin kita bisa menerapkan hukum Islam yang shohih, setelah kita memenangkan pemilu tersebut?</strong></p>
<p>S: Mustahil menurut konsep demokrasi. Karena persatuan Islam dengan cara itu hanyalah persatuan jasadi, bukan persatuan Islam sesungguhnya. Setiap kelompok yang berbeda-beda itu akan kembali menuntut haknya masing-masing dengan mengatasnamakan demokrasi.</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, adakah cara lain untuk menunaikan perintah Allah agar kita menuju persatuan Islam?</strong></p>
<p>S: Seperti telah saya katakan, realitas perpecahan ummat ini telah dikabarkan oleh Rasulullah pada 14 abad yang lalu, dan jalan keluarnya pun telah pula dijelaskan oleh Beliau.</p>
<p><strong>K: Apa jalan keluar menurut Beliau (Hadits)?</strong></p>
<p>S: Pertama: Perintah untuk menjauhi semua kelompok yang ada. Kedua perintah utk &#8220;ruju&#8217; (kembali) kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin sesudahku.&#8221; Kalau dikatakan &#8220;kembali&#8221;, maka hal itu akan mempunyai 2 makna. Pertama: orangnya telah berjalan terlalu jauh, kedua: jalannya itu sendiri yang kejauhan/salah jalan/rambu-rambunya rusak atau tersamar. Maka untuk membuat &#8220;orangnya&#8221; bisa kembali, kita harus memberikan arahan kepadanya, yaitu berupa petunjuk/pendidikan (tarbiyyah) agar orang tersebut bisa mencari jalan pulang. Adapun terhadap &#8220;jalannya&#8221;, maka kita harus benahi jalan itu, bersihkan, murnikan (tasfiyyah) agar orang lain tidak kembali menempuh jalan itu, walaupun orang munafik tidak menyukainya. Melalui hadits ini, Rasulullah telah memberikan solusi metoda dakwah akhir zaman, ketika ummat Islam telah berkelompok-kelompok. Inilah metoda dakwah menuju persatuan hakiki, yaitu persatuan jasadi warruuhi.</p>
<p><strong>K: Memang begitulah idealnya. Karena dengan bersatunya pemahaman, maka otomatis jasadnyapun akan bersatu. Namun demikian, akan lama sekali rasanya kemenangan itu tercapai?</strong></p>
<p>S: Lama atau cepat bukan urusan kita. Itu urusan Allah. Kita tidak dituntut untuk cepat-cepat. Bahkan kemenangan itu sendiripun bukan suatu tuntutan. Kemenangan pada hakekatnya adalah pemberian dari Allah. Yang Allah tuntut dari diri kita adalah bagaimana kita menunaikan jalan menuju kemenangan tersebut sesuai dengan konsep nubuwwah.</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, kapan kita bisa mendirikan sebuah Daulah Islam?</strong></p>
<p>S: Daulah hanyalah sebuah sarana dakwah, bukan tujuan dakwah. Sarana itu memang harus kita capai, namun bukan dengan mengorbankan tujuan. Tujuan dakwah adalah yang asasi. Tujuan dakwah adalah mentauhidkan Allah dan &#8220;memurnikan&#8221; Islam, dengan cara menuntut dan menyebarkan ilmu, serta mempersatukan ummat sesuai dengan konsep nubuwwah tadi.</p>
<p><strong>K: Tapi, bagaimana mungkin bapak bisa mengatakan bahwa &#8220;mendirikan daulah&#8221; itu bukan salah satu tujuan dakwah?</strong></p>
<p>S: Baiklah, apakah ananda ingat kisah Rasulullah dengan pamannya Abu Thalib?</p>
<p><strong>K: Kisah yang mana Pak, ada beberapa kisah yang saya ingat.</strong></p>
<p>S: Kalau seandainya mendirikan daulah, atau menjadi presiden, atau mencapai kekuasaan adalah tujuan dakwah, maka Rasulullah telah memilih kesempatan itu di awal masa datangnya Islam, tanpa harus berperang!. Ingatkah ananda, ketika kaum kafir Quraisy melalu lisan Paman Nabi, Abu Thalib, menawarkan: seandainya engkau menghendaki wanita, maka mereka akan mencari wanita-wanita tercantik untuk dinikahkan dengan engkau, atau harta, maka mereka akan mengumpulkan seluruh kekayaan Quraisy dan diberikan kepada engkau, atau menjadi raja, maka mereka akan membai&#8217;at engkau menjadi raja. Namun apa jawaban Beliau?</p>
<p><strong>K: Apa kata Beliau Pak?</strong></p>
<p>S: Beliau bersabda: &#8220;Sekali-kali tidak wahai pamanku!, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, bulan di tangan kiriku, maka sekali-kali aku tidak akan gentar, sampai Allah memenangkan urusanku, atau aku binasa bersamanya.&#8221;</p>
<p><strong>K: Subhanallah, mengapa Beliau tidak memilih menjadi raja, bukankah beliau politikus ulung?</strong></p>
<p>S: Politikus ulung hanyalah julukan orang-orang, tapi beliau adalah seorang Nabi. Seorang Rasul yang diturunkan dengan membawa konsep dakwah nubuwwah. Kalau seandainya beliau adalah politikus, maka sudah tentu beliau akan memilih menjadi raja. Karena dengan menjadi raja, maka harta akan Beliau peroleh, wanita yang cantik akan mudah Beliau dapatkan, bahkan dakwah pun akan lebih mudah disebarkan. Tapi sekali lagi, Beliau bukan seorang politikus, Beliau adalah seorang Nabi, yang mendapat wahyu dan diperintah oleh Allah ‘azza wajalla.</p>
<p><strong>K: Jadi, mencapai kekuasaan itu bukan tujuan dakwah?</strong></p>
<p>S: Begitulah. Kalau seandainya hal itu merupakan tujuan, maka sesungguhnya kesempatan itu sudah ada di depan mata Rasulullah, tanpa harus berperang, tanpa harus ber-pemilu. Tapi beliau tidak mengambilnya. Dan seandainya kita menyangka bahwa dengan kekuasaan, hukum Islam itu bisa ditegakkan, sudah barang tentu Rasulullah pun telah lebih dulu menerima tawaran kaum Quraisy itu.</p>
<p><strong>K: Oya, saya teringat sesuatu. Bukankah Rasulullah menolak tawaran tersebut karena tawaran itu bersyarat? Yaitu agar Beliau meninggalkan dakwah Islamiyyah?</strong></p>
<p>S: Bukankah kekuasaan yang dicapai dengan demokrasi pun akan penuh dengan syarat? Penuh kompromi? Penuh toleransi? Harus tetap menghargai orang yang berbeda pendapat, menghargai orang yang tidak setuju dengan hukum rajam, potong tangan, jilbab, bahkan menghargai hukum murtad dari agama Islam, karena hal itu adalah hak asasi manusia. Kalau ternyata Rasulullah meninggalkan pencapaian &#8220;kekuasaan yang bersyarat&#8221; itu, lalu mengapa kita berani mengambilnya?</p>
<p><strong>K: Saya kagum dengan argumentasi-argumentasi yang Bapak kemukakan, namun masih ada sedikit syubhat dalam fikiran saya.</strong></p>
<p>S: Silahkan ananda kemukakan.</p>
<p><strong>K: Kalau pada zaman Nabi kan Beliau dituntut oleh Allah untuk memperjuangkan Islam secara sempurna, apalagi beliau di bawah bimbingan Allah. Tapi saat ini, kan agak susah utk memperjuangkan Islam yang sempurna, karena kita bukan Nabi. Jadi melalui demokrasi, kita bisa mengakomodasi hukum Islam sedikit demi sedikit.</strong></p>
<p>S: Masalahnya Allah telah berfirman: Walaa talbisul haqqo bil baatili (Janganlah kalian mencampuradukan yang haq dengan yang bathil). Sebuah larangan yang sangat keras dari Allah. Memang, dengan demokrasi, sebagian hukum Islam mungkin bisa diakomodasi, namun di saat yang sama, kita terpaksa melanggar ayat tadi, karena harus bertoleransi dengan selain hukum Allah, harus bersekutu dengan orang kafir dalam penentuan suatu hukum. Saya melihat bahwa kemampuan akomodasi dengan cara demokrasi tidak akan sampai kepada derajat kamil/kaffah, karena di sana ada kompromi, toleransi, tenggang rasa.</p>
<p><strong>K: Lalu, cara apa yang bisa mengakomodasi hukum Islam secara kaffah?</strong></p>
<p>S: Jihad fii Sabilillah. Dengan cara itulah Islam telah jaya pada zaman para Nabi dan Rasul, dan dengan cara itu pulalah agama Islam ini akan kembali jaya di akhir zaman. Islam telah dimuliakan dengan jihad, dan akan kembali mulia dengan jihad.</p>
<p align="center"><strong>***</strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p><strong>K: Pak Sholeh, tadi Bapak telah menjelaskan satu sifat dari sifat-sifat hizbullah, yaitu menjaga dan menyerukan persatuan Islam. Tolong Bapak sebutkan sifat-sifat yang lain!</strong></p>
<p>S: Mereka itu sesuai firman Allah: <em>Asidda&#8217;u ‘alal kuffar, ruhama&#8217;u bainahum</em> (keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka).</p>
<p><strong>K: Tolong Bapak sebutkan ciri hizbullah yang lain!</strong></p>
<p>S: Mereka menyerukan agar kaum wanita muslimah kembali ke rumah untuk mendidik generasi muda Islam, sebagai kewajiban yang telah lama ditinggalkan atau sengaja dilupakan, yaitu perintah Allah ‘azza wajalla: &#8220;Wa qorna fii buyuutikunna!&#8221;. Namun ananda, diantara mereka justru ada yang menjadi anggota parlemen, bercampur dengan laki-laki dan orang-orang kafir.</p>
<p><strong>K: Tolong sebutkan satu lagi saja sifat yang lain!</strong></p>
<p>S: Wahai ananda, mereka itu selalu memperjuangkan Hak Asasi Allah (HAA).</p>
<p><strong>K: Setahu saya, semua partai Islam tentu memperjuangkan Hak Hak Allah, walaupun istilahnya tidak setenar mereka memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM). Bagaimana tanggapan Bapak?</strong></p>
<p>S: Itulah demokrasi. Inti dari konsep demokrasi adalah adanya hak individu, yaitu hak asasi manusia (HAM). Yaitu bahwa setiap orang, baik itu sholeh maupun jahat, mempunyai hak asasi yang harus dihormati. Setiap orang boleh mengeluarkan pendapat yang harus dihargai.</p>
<p><strong>K: Bukankah itu suatu konsep yang sangat baik?</strong></p>
<p>S: Adakah padanya kebaikan, sementara konsep &#8220;hak asasi&#8221; mengatakan: segala perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu, selama perbuatan itu tidak mengggangu orang lain, tidak merugikan orang lain, tidak melanggar hak orang lain, maka itu adalah hak asasi dia yang harus didengar, dihargai dan dilindungi.</p>
<p><strong>K: Saya belum memahami maksudnya, tolong dijelaskan lagi.</strong></p>
<p>S: Di dalam negara demokrasi, apabila ada satu atau dua orang saja yang mempunyai pendapat, misalnya kita contohkan saja perkawinan sejenis (gay/lesbi), maka kedua orang tersebut berhak untuk turun ke jalan berdemonstrasi, menulis di media massa mendakwahkan idenya, membentuk organisasi, berbicara di depan parlemen untuk menuntut haknya, serta berhak untuk dilindungi hak asasinya tersebut.</p>
<p><strong>K: Saya akan menentang kedua orang tersebut, karena homoseksual tidak bisa diterima oleh Islam.</strong></p>
<p>S: Lho, ananda kan selalu berkata agar menghargai pendapat orang lain, maka ananda harus konsisten, sesuai prinsip demokrasi.</p>
<p><strong>K: Baiklah, adakah contoh kongkrit yang lain?</strong></p>
<p>S: Ketika para agamawan, baik dari Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain menentang perbuatan seks di luar nikah seperti WTS, maka ada orang-orang yang mengaku dirinya nasionalis, aktifis HAM berkata membela: &#8220;Mereka itu mempunyai hak untuk makan, untuk hidup, untuk membiayai anak-anaknya yang lapar. Maka di saat mereka tidak memiliki keahlian untuk bekerja kecuali dengan menjual tubuhnya, maka kita harus memberikan kesempatan itu, memberikan haknya untuk hidup, selama di dalamnya ada rasa suka sama suka, saling menguntungkan dan tidak merugikan orang lain. Maka membunuh hak mereka, sama dengan membunuh anak-anaknya yang lapar. Begitu juga dengan istilah WTS yang cenderung menghinakan mereka, istilah itu harus diganti dengan yang lebih manusiawi seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Demi keagungan prinsip demokrasi, anda harus menghargai hak-hak mereka!!&#8221;</p>
<p><strong>K: Tolong sebutkan satu saja contoh kongkrit yang lain?</strong></p>
<p>S: Berjemur tanpa selembarpun busana di taman-taman kota di Jerman, masih dilarang oleh undang-undang dan ada padanya hukuman denda. Namun apa yang terjadi saat ini, ketika polisi mendatangi mereka dan mengingatkan akan peraturan ini, mereka mengatakan: &#8220;Ini adalah hak asasi saya, ada apa dengan anda? Apakah saya mengganggu hak orang lain?&#8221;</p>
<p><strong>K: Wah, sangat tidak bisa dibayangkan ya Pak. Bagaimana kalau setiap orang jahat di Indonesia turun ke jalan lalu berkata: saya menuntut hak saya untuk bisa berbuat ini dan itu. </strong></p>
<p>S: Singkatnya, ketika ada orang baik yang memperjuangkan suatu kebenaran, lalu ada orang jahat yang berkata: &#8220;Saya ingin melakukan yang berlawan dengan anda, dan ini adalah hak asasi saya, pendapat saya&#8221; maka ananda harus menghargainya, atas nama demokrasi.</p>
<p><strong>K: Pak Sholeh, tadi Bapak telah menjelaskan salah satu konsep demokrasi yaitu kebebasan berpendapat dan HAM. Lalu adakah konsep demokrasi lain yang janggal?</strong></p>
<p>S: Di dalam memilih seorang pemimpin, katakanlah presiden, maka seorang da&#8217;i kondang sekelas Zainuddin MZ akan memiliki suara yang sama nilainya dengan seorang pelacur, perampok, koruptur yang sedang dipenjara, bahkan orang kafir, yaitu SATU suara. Jadi inti konsep demokrasi yang kedua adalah menang-menangan suara.</p>
<p><strong>K: Lalu, apa kejanggalannya?</strong></p>
<p>S: Konsep itu tentu akan membuat Al-haq tidak akan pernah menang, bahkan mustahil untuk menang.</p>
<p><strong>K: Tidak akan pernah menang? Bukannya kita dapat bertarung dalam pemilu?</strong></p>
<p>S: Bagaimana ananda akan bertarung, sementara Rasulullah telah mengabarkan tentang kekalahan itu.</p>
<p><strong>K: Maksud Bapak?</strong></p>
<p>S: Beliau mengabarkan bahwa jumlah orang-orang baik di akhir zaman itu cuma sedikit dan terasing (ghuroba&#8217;). Walaupun dalam hadits lain beliau mengabarkan bahwa jumlah orang Islam itu banyak, tapi mereka itu seperti buih, mereka itu asing dari agamanya, asing dari kebenaran. Yang benar menurut mereka asing, yang bathil menurut mereka benar. Bagaimana ananda bisa menang, sementara orang yang tidak suka pada kebenaran itu lebih banyak, bahkan mereka dari kalangan ummat Islam sendiri&#8230;..</p>
<p><strong>K: Bagaimana dengan berusaha sekuat tenaga, kampanye yang tiada henti, menggunakan seluruh fasilitas dakwah, tv, koran dan sebagainya?</strong></p>
<p>S: Adakah kabar dari Rasulullah itu bisa berubah?</p>
<p><strong>K: Kalau begitu, selain demokrasi, adakah cara dakwah lain yang bisa membuat jumlah orang baik sebanding atau mengalahkan jumlah orang jahat?</strong></p>
<p>S: Tidak ada satupun cara dakwah yang dapat menyeimbangkan angka tersebut, karena itu merupakan kabar dari Rasulullah. Di akhir zaman, orang-orang baik akan tetap sangat-sangat sedikit jumlahnya.</p>
<p><strong>K: Lalu, buat apa kita berdakwah?</strong></p>
<p>S: Kalau tujuannya untuk menang-menangan suara, maka kita tidak usah berdakwah, karena sudah pasti kita tidak akan pernah menang.</p>
<p><strong>K: Lalu, dengan cara apa Ummat Islam akan menang?</strong></p>
<p>S: Yang jelas ananda, bukan dengan meningkatnya jumlah orang baik dari orang jahat. Saya tidak pernah mendengar kabar seperti itu. Justru semakin menuju akhir zaman, orang-orang akan semakin rusak, biduanita dan minuman keras makin merajalela, mereka meminta menghalalkan segala sesuatu yang haram, termasuk alat-alat musik (lihat hadits Bukhari).</p>
<h3></h3>
<p><strong>K: Jadi Pak, kalau bukan dengan jumlah, dengan apa Ummat Islam bisa menang?</strong></p>
<p>S: Itulah ananda. Di sini ada suatu hikmah yang sangat agung. Suatu hikmah yang hampir tidak pernah disadari oleh setiap muslim. Kemenangan akhir zaman itu suatu ketetapan yang telah dikabarkan oleh Rasulullah. Namun di sisi lain, Beliau pun mengabarkan akan keterasingan dan sedikitnya jumlah orang-orang baik (benar) pada waktu itu. Dengan sedikitnya jumlah, berarti demokrasi tidak akan bisa mengantarkan kepada kemenangan Islam yang hakiki. Saya sangat berharap, bahwa kemenangan itu adalah kemenangan Al-Badr, yaitu kemenangan seperti pada perang Badr. Kemenangan yang gemilang, walaupun jumlah orang baik pada waktu itu cuma sedikit.</p>
<p><strong>K: Kapankah sebetulnya kemenangan hakiki itu akan datang Pak?</strong></p>
<p>S: Yaitu pada masa munculnya Al-Imam Mahdi, pada masa turunnya kembali Nabiullah ‘Isa ‘alahissalam.</p>
<p><strong>K: Lho, berarti kemenangan yang hakiki itu akan datang di akhir zaman, tidakkah ada kemenangan sebelum itu?</strong></p>
<p>S: Wallahu&#8217;alam. Dari beberapa dalil yang ada, sebagian orang berusaha menyimpulkan bahwa setelah tumbangnya Kekhalifahan Turki Utsmani, maka ummat Islam akan mengalami suatu masa, dimana tidak akan ada lagi kekhalifahan yang sifatnya menyeluruh (mendunia). Ummat Islam akan berada dalam perpecahan, kebodohan yang sangat, penindasan, banyak ulama-ulama su&#8217; yang mengajak ke lembah jahannam, digerogoti kaum kafir, dsb. Baru setelah itu akan datang kemenangan ditandai dengan berdirinya kekhalifahan Al-Mahdi yang akan berkuasa selama sekitar 40 tahun. Ternyata kemenangan itu pun cuma sesaat. Cuma 40 tahun saja. Makanya yang paling penting adalah bukan kemenangannya itu sendiri, melainkan bagaimana kita menunaikan jalan menuju kemenangan itu sesuai dengan tuntutan Rasulullah serta tidak mengorbankan akidah.</p>
<p><strong>K: Jadi tidak ada kabar bahwa diantara masa itu akan ada suatu daulah atau kekhalifahan yang berhasil diperjuangkan baik dengan cara demokrasi atau cara-cara lainnya?</strong></p>
<p>S: Hanya itu kabar tentang Kemenangan Ummat Islam di akhir zaman sejauh yang saya ketahui dari dalil-dalil yang ada. Yaitu kemenangan hakiki yang ditandai dengan berdirinya Kekhalifahan Al-Mahdi.</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>K: Kalau kemenangan itu akan datang pada saat orang baik sedikit, lalu apa rahasianya mereka bisa menang, Pak?</strong></p>
<p>S: Tentunya karena mereka mematuhi wasiat Rasul. Wasiat untuk orang-orang yang hidup di akhir zaman.</p>
<p><strong>K: Apa wasiat Beliau?</strong></p>
<p>S: Wasiat yang telah kita diskusikan tadi pagi, yaitu wasiat untuk ruju&#8217; (kembali) kepada Kitabullah, Sunnah Rasulullah, Sunnah Khulafaur Raasyidin, menggigitnya erat-erat dengan gigi-gigi geraham serta menjauhi semua kelompok (firqah) yang ada, walaupun harus mati dalam keadaan demikian (Lihat hadits-hadits tentang perpecahan ummat).</p>
<p><strong>K: Bagaimana dengan wasiat itu mereka bisa menang?</strong></p>
<p>S: Karena wasiat itu membawa manusia kepada persatuan yang hakiki. Persatuan pemahaman terhadap Sunnah yang haq, yaitu persatuan jasad dan ruh. Mereka senantiasa mengajak ummat Islam untuk &#8220;kembali&#8221;, yaitu dengan memberikan arahan menuju jalan pulang (tarbiyyah), sekaligus memperbaiki &#8220;jalan-jalan&#8221; yang telah membawa mereka pergi jauh dari sunnah itu (tasfiyyah). Wasiat itu senantiasa mereka perjuangkan dan terapkan, baik itu di masjid-masjid, masjis ta&#8217;lim, pada kurikulum madrasah/pesantren yang mereka mampu melakukannya. Itulah tempat-tempat harapan para kuntum dan kesuma Islam. Walaupun banyak orang menghinakannya.</p>
<p><strong>K: Tapi sesuai dengan uraian Bapak, cara itupun tidak akan dapat membuat orang baik menjadi lebih banyak kan Pak?</strong></p>
<p>S: Ananda benar. Ahlu sunnah itu akan tetap ghuraba (terasing) dan sedikit. Kita hanya berharap agar, walaupun jumlahnya sedikit, namun mereka akan ada di setiap penjuru desa. Berusaha untuk senantiasa konsisten dalam mempersiapkan jalan menuju kemenangan, sampai wasilah untuk menuju kemenangan itu datang. Adapun wasilah itu bisa saja datang dengan tiba-tiba. Pada saat wasilah itu datang, kita berharap mereka yang sedikit itu akan cukup mampu menjadi motor untuk membangunkan kaum muslimin yang sedang tertidur&#8230; terlena dengan kehidupan dunia&#8230;.Bangun untuk menyambut datangnya sang wasilah&#8230;</p>
<p><strong>K: Wasilah apa itu Pak? </strong></p>
<p>S: Itulah jihad akhir zaman. Jihadul Akbar! dimana kaum muslimin akan berperang habis-habisan melawan Yahudi dan Nashrani.</p>
<p><strong>K: Lalu, kenapa wasilah itu bisa datang dengan tiba-tiba?</strong></p>
<p>S: Pada waktu perang Badr, Ummat Islam sangatlah sedikit. Mereka keluar dari kota Madinah bukan untuk berperang, persenjataan yang mereka bawa seadanya, hanya cukup untuk berjaga-jaga. Namun Allah menurunkan wasilah itu&#8230;..</p>
<p><strong>K: Adakah kisah ini dari Rasulullah?</strong></p>
<p>S: Rasulullah bersabda: &#8220;Akan tetap ada sebagian dari ummatku yang senantiasa menampakkan al-haq, apabila mendapatkan penghinaan, mereka tidak merasa gentar, dan mereka tetap konsisten seperti itu, sampai datangnya &#8220;keputusan&#8221; Allah &#8230;.(au kama qolla Rasulullah).</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>K: Pak Sholeh, dengan alasan-alasan yang Bapak kemukakan, sekarang saya minimal bisa menghargai pendapat orang-orang yang berbeda dengan saya. Yaitu orang-orang yang tidak setuju dengan demokrasi. Karena ternyata mereka pun mempunyai alasan yang tidak gampang dibantah. Mereka itu berpendapat bukan tanpa ilmu. Walaupun hati ini belum merasa puas, karena masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.</strong></p>
<p>S: Syukurlah kalau Nak Khoirul memahaminya. Kita memang butuh tabayyun dengan orang yang berbeda pendapat. Akan lebih baik lagi, kalau Nak Khoirul langsung belajar dari kitab-kitab para ulamanya, tentu akan banyak didapati alasan-alsasan yang mempunyai sandaran Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, daripada sekedar alasan dari saya yang dho&#8217;if.</p>
<p><strong>K: Pak Sholeh, Bapak telah menjelaskan beberapa konsep demokrasi. Bapak telah menjelaskan beberapa sifat Partai Allah. Bapak pun telah menjelaskan bagaimana kedudukan partai politik di dalam lingkaran besar kaum muslimin. Tentang perintah Nabi untuk menjauhi semua kelompok. Namun Pak, kalau kita meninggalkan gelanggang politik, justru hal itu akan membuat parah kaum muslimin. Karena dengan demikian, kaum kafir akan masuk ke dalam parlemen. Mereka, bersama orang-orang Islam yang jahil, akan membuat undang-undang yang justru akan menyengsarakan kaum muslimin. Mereka akan lebih menindas kaum muslimin, akan mengganti dengan hukum-hukum thagut yang lebih mengerikan. Presiden dan gubernur akan dijabat oleh orang kafir. Apakah ummat Islam tidak berdosa secara fardu kifayah? Apakah kita akan tinggal diam saja?</strong></p>
<p>Hening&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><em>Kali ini Pemuda Khoirul berargumen cukup panjang. Pak Sholeh yang tadinya meladeni pertanyaan-pertanyaan dia dengan lancar, kini tiba-tiba wajahnya perlahan-lahan tertunduk lesu. Tatapannya merunduk, memandang permukaan karpet mesjid yang sudah usang dimakan usia. Raut wajahnya menampakkan kesedihan&#8230;.Nampak jelas usianya yang telah menginjak setengah baya. Bibirnya tertutup rapat. Jari telunjuknya memainkan butiran-butiran pasir di atas karpet. Memang, dengan mudah sekali Beliau bisa menjelaskan bagaimana demokrasi itu bertentangan dengan Islam. Bahkan bertentangan dengan semua agama. Karena Hak Asasi Manusia kadangkala atau bahkan senantiasa berbenturan dengan Hak Asasi &#8220;Tuhan&#8221;, yang diatur dalam agama-agama. Namun kali ini Beliau dihadapkan dengan sebuah realita. Pertanyaan yang memaksa Beliau terdiam cukup lama. Terlihat sekali berat dan susahnya Beliau menjawab pertanyaan ini. Seakan-akan beliau sedang merasakan kehilangan seorang ayah atau seorang ibu. Terlihat ada kaca-kaca air di matanya. Kaca-kaca air itu semakin terlihat jelas menggumpal. Lalu&#8230;.setetes air mata jatuh dari wajahnya yang masih tertunduk, beliau mengangkat wajah dan berkata lirih hampir tak terdengar:</em></p>
<p>S: Ananda, inilah puncak pertanyaan dari segala pertanyaan seputar demokrasi. Akan ananda rasakan, betapa tipis sekali batas jawabannya, kecuali bagi orang-orang yang memikirkannya dengan bashiroh dan kehati-hatian. Inilah dilema Ummat Islam yang saya namakan Dilema Simalaka.</p>
<p><strong>K: Apa itu Simalakama?</strong></p>
<p>S: Legenda tentang suatu jenis buah, yang apabila seseorang memakannya, maka bapaknya akan mati, kalau tidak dimakannya, maka ibunya yang akan mati. Suatu keputusan yang sulit dipenuhi.</p>
<p><strong>K: Mengapa bisa begitu Pak Sholeh?</strong></p>
<p>S: Karena Ummat Islam dihadapkan pada dua persoalan yang sangat bertolak belakang. Yang satu adalah masalah kemustahilan, yang kedua adalah masalah realita-realita.</p>
<p><strong>K: Saya jadi tidak mengerti. Tolong Bapak jelaskan lebih rinci lagi.</strong></p>
<p>S: Baiklah, tapi saya akan bertanya dulu kepada ananda. Tolong ananda jelaskan, apa yang ananda fahami tentang &#8220;kemenangan&#8221; yang dijanjikan Rasulullah di akhir zaman bagi Ummat Islam.</p>
<p><strong>K: Mmmm&#8230;yaitu berdirinya sebuah Daulah Islamiyyah berbentuk kekhalifahan&#8230;mmmm dan terealisasinya Hukum Islam secara kaffah.</strong></p>
<p>S: Cukup bagus. Kira-kira bagaimana hal itu bisa dicapai.</p>
<p><strong>K: Mmm&#8230;.Saya tidak tahu&#8230;.mmm dengan diplomasi atau kompromi rasanya tidak mungkin&#8230;mmm mungkin dengan jihad kali Pak.</strong></p>
<p>S: Baiklah. Coba ingat-ingat kembali prinsip demokrasi. Yaitu prinsip menghargai perbedaan pendapat, adanya kompromi dan negosiasi dengan orang kafir, kompromi dengan orang Islam yang tidak faham Islam, seperti para nasionalis, aktifis HAM, adanya sistem satu suara lawan satu suara, sementara jumlah orang yang benar itu kata Rasulullah cuma sedikit. Menurut ananda, apakah mungkin Daulah Islamiyyah dan Hukum Islam kaffah tadi akan dapat ditegakkan dengan cara ini?</p>
<p><strong>K: Mmmm&#8230;.rasanya koq tidak mungkin Pak&#8230;Kalaupun mungkin&#8230;rasanya akan sangat lama sekali Pak&#8230;karena di sana ada kompromi dan sikap menghargai pendapat orang lain&#8230;agama lain&#8230;aturan lain&#8230;</strong></p>
<p>S: Nak Khairul, itulah yang saya maksud dengan &#8220;kemustahilan&#8221;.</p>
<p><strong>K: Tapi kalau kita meninggalkan demokrasi, bisa-bisa presiden kita akan dijabat oleh orang non-muslim, hukum-hukum bisa diganti oleh mereka dengan yang merugikan Islam. Bukankah begitu?</strong></p>
<p>S: Ananda benar. Namun tetap saja, apakah hal itu akan membawa kepada &#8220;Kemenangan&#8221; seperti yang telah ananda definisikan tadi? Yaitu kemenangan hakiki, kemenangan yang kaffah?</p>
<p><strong>K: Mustahil, karena di sana ada kompromi, ada toleransi. </strong></p>
<p>S: Kalau mustahil, kenapa jalan itu tetap ditempuh?</p>
<p><strong>K: Saya tahu jalan itu tidak akan mencapai kemenangan yang hakiki kecuali dengan jihad. Tapi dengan demokrasi, minimal kita dapat membela hak-hak kaum muslimin.</strong></p>
<p>S: Inilah salah satu &#8220;realita&#8221; yang saya maksud.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p>S: Baiklah, tadi ananda sebut-sebut tentang menyelamatkan kaum muslimin. Sekarang saya mau bertanya, siapa sebenarnya yang harus ananda selamatkan di antara kaum muslimin itu?.</p>
<p><strong>K: Tentunya yang paling penting adalah saya sendiri. Kemudian keluarga saya serta kaum muslimin seluruhnya. Kira-kira begitulah kalau saya urutkan menurut skala prioritas.</strong></p>
<p>S: Baiklah. Lalu, apa sih sebenarnya yang harus diselamatkan dari diri ananda, keluarga ananda dan kaum muslimin tadi.</p>
<p><strong>K: Agar tidak jatuh pada kesyirikan baik besar maupun kecil. Itu yang paling utama, karena itulah inti dakwah para Nabi. Hal itu menjadi yang paling utama, karena itu adalah masalah surga dan neraka. Allah telah berfirman: &#8220;Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya&#8221;. </strong></p>
<p>S: Baiklah. Setelah masalah syrik (tauhid), kira-kira prioritas apalagi yang harus ananda selamatkan dari kaum muslimin?</p>
<p><strong>K: Kalau masalah surga dan neraka sudah terselamatkan, maka saya akan berusaha agar ibadah saya, keluarga saya dan kaum muslimin diterima oleh Allah. Adapun kuncinya cuma ada dua, yaitu ikhlash dan ittiba&#8217; dengan menyempurnakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah.</strong></p>
<p>S: Baiklah. Tadi saya telah jelaskan sebuah &#8220;realita&#8221; yang sedang dihadapi oleh Ummat Islam, yaitu bahwa Ummat Islam terpaksa harus memilih sistem demokrasi. Sekarang ananda akan saya bawa kepada realita yang kedua.</p>
<p><strong>K: Realita apa itu Pak?</strong></p>
<p>S: Ananda telah katakan bahwa prioritas utama dalam menyelamatkan ananda sendiri, keluarga dan kaum muslimin seluruhnya adalah menjauhkan syirik (menjelaskan tauhid). Kira-kira langkah apa yang akan ananda tempuh untuk menyampaikan hal itu kepada ummat Islam Indonesia yang kebanyakan masih suka tahayyul, penuh dengan khurofat, suka berkunjung ke makam-makam keramat untuk berdoa, jimat, jampi-jampi, perdukunan, mistik, dsb?</p>
<p><strong>K: Tentu saya akan menyampaikannya di manapun kesempatan itu datang pada saya, insya Allah.</strong></p>
<p>S: Apabila kesempatan itu ada di depan parlemen, anggap saja ananda memilih jalan itu, apakah ananda juga akan menyampaikannya? Mengusulkan kepada parlemen agar segera membuat aturan untuk melarang tour/ziarah ke kuburan-kuburan dan menutup pintu-pintu kemusyrikan?</p>
<p><strong>K: Mmmmm&#8230;..</strong></p>
<p>S: Baiklah. Nampaknya ada yang sedang ananda pertimbangkan kalau ananda harus menyampaikan hal itu di depan parlemen. Kalau begitu, bagaimana kalau kita turun ke jalan saja berdemonstrasi?</p>
<p><strong>K: Mmmmm&#8230;..Rasanya juga tidak mungkin Pak, karena hal itu justru akan memecahbelah kaum muslimin dan membenci partai saya.</strong></p>
<p>S: Kalau begitu ananda tidak konsisten. Bukankah tadi ananda katakan bahwa hal itu merupakan masalah surga dan neraka bagi ummat? Masalah yang menjadi prioritas pertama yang harus ananda selamatkan dari ummat? Dimanakah konsistensi ananda?</p>
<p><strong>K: Bapak benar.</strong></p>
<p>S: Selanjutnya ananda katakan bahwa prioritas yang kedua yang harus diselamatkan dari ummat adalah ibadah yang diterima oleh Allah dengan dua kuncinya yaitu ikhlash dan ittiba&#8217;. Ananda sudah tahu bahwa Ummat Islam ini telah berpecah belah dan banyak penyimpangan dalam peribadahan mereka. Ada yang sholat di kuburan, ada yang tahlilan, ada yang tidak perlu sholat kalau sudah sampai derajat tertentu (tarikat), ada yang menghalalkan musik padahal dalam hadits Bukhari jelas-jelas Rasulullah mengharamkan alat-alat musik, ada yang memotong ayam lalu mengelilingkan darahnya pada rumah yang baru di bangun, istighosah dan doa bersama dengan kaum kafir, ikut perayaan natalan, wanita karir, dsb. Kira-kira jalan apa yang akan ananda tempuh untuk menyampaikan prioritas kedua ini kepada kaum muslimin?</p>
<p><strong>K: Mmmm&#8230;.saya rasa hal-hal itu pun tidak mungkin bisa disampaikan melalui parlemen atau demonstrasi, karena tentunya akan memecahbelah ummat dan membenci partai saya. Lagipula itu kan masalah khilafiyyah.</strong></p>
<p>S: Mengapa khilafiyyah?</p>
<p><strong>K: Karena sebagian besar Ummat Islam Indonesia kan menganut madzhab Syafi&#8217;i, sehingga bisa saja berbeda dengan madzhab lain.</strong></p>
<p>S: Ananda tidak perlu menyampaikan madzhab lain. Ananda cukup meluruskan pemahaman mereka tentang madzhab Syafi&#8217;i yang mereka anut itu. Yaitu bahwa Imam Syafi&#8217;i mengharamkan segala jenis jimat, jampe, berdoa di kuburan-kuburan, mengunjungi masjid-masjid yang ada kuburannya. Beliau tidak mengenal tahlilan. Beliau tidak mengenal sistem tarikat. Beliau melarang berdoa atau istighosah bersama orang kafir, merayakan perayaan keagaaman mereka. Beliau mengharamkan musik, menyuruh wanita tinggal di rumah, dsb.</p>
<p><strong>K: Mmmmm&#8230;&#8230;</strong></p>
<p>S: Baiklah. Kalau begitu, kapan dan dimana ananda merasa lebih nyaman untuk menyampaikan masalah-masalah itu kepada ummat?</p>
<p><strong>K: Mungkin di masjid-masjid, masjlis ta&#8217;lim, madrasah, pesantren&#8230;</strong></p>
<p>S: Justru tempat itulah yang dihinakan oleh orang-orang yang mengagungkan dakwah lewat parlemen. Seolah-oleh parlemen adalah tempat yang mulia untuk berdakwah. Mereka menghinakan orang yang dakwah dari masjid ke masjid, seolah melupakan permasalahan ummat&#8230;.Padahal siapa sebenarnya yang melupakan atau pura-pura lupa akan &#8220;permasalahan terpenting&#8221; ummat?</p>
<p><strong>K: Mmmmm&#8230;..</strong></p>
<p>S: Baiklah, bagaimana kalau ananda meyampaikannya di dalam kampanye sewaktu berkunjung ke daerah-daerah?</p>
<p><strong>K: Maksud Bapak menyampaikan masalah syirik (tauhid) dan penyimpangan ibadah dalam kampanye?</strong></p>
<p>S: Ya. Karena kata ananda itu adalah prioritas pertama dan kedua.</p>
<p><strong>K: Tentu baru beberapa menit mereka akan lari Pak.</strong></p>
<p>S: Kalau begitu, materi apa yang akan ananda sampaikan dalam kesempatan kampanye itu?</p>
<p><strong>K: Tentang program kristenisasi, tentang ketidakadilan, tentang korupsi, tentang pornografi, tentang harga-harga yang naik terus, tentang pengangguran, dan masih banyak lagi.</strong></p>
<p>S: Ananda sungguh sangat tidak konsisten.</p>
<p><strong>K: Kenapa begitu Pak?</strong></p>
<p>S: Karena tadi ananda mengatakan bahwa prioritas dakwah yang harus disampaikan kepada ummat adalah syririk (tauhid), kemudian yang kedua adalah cara beribadah yang benar.</p>
<p><strong>K: Dalam berkampanye kan kita harus terlebih dahulu menyentil ummat dengan masalah-masalah seputar mereka agar mereka setuju dengan kita lalu menyerahkan suaranya kepada kita. Sehingga nantinya kita bisa membela mereka di hadapan parlemen. </strong></p>
<p>S: Apa yang akan ananda bela di hadapan parlemen? Apakah ananda akan meminta parlemen untuk mengampuni kesyirikan mereka, penyimpangan ibadah mereka?</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>K: Mengenai masalah tauhid/syirik dan penyimpangan ibadah, walaupun itu menjadi prioritas dakwah, tapi masih bisa disampaikan oleh rekan-rekan dari devisi dakwah pada kesempatan yang lain.</strong></p>
<p>S: Sebenarnya pada poin ini ananda sudah tidak konsisten terhadap prinsip-prinsip ananda sendiri. Tapi baiklah, kalau seandainya itu merupakan tanggungjawab dari devisi dakwah. Akan tetapi, devisi dakwah partai manakah yang dengan lantang menyerukan pemberantasan kesyirikan dan penyimpangan ibadah? Partai Islam manakah yang berani menentang masuknya paham syi&#8217;ah ke Indonesia? Hampir semua devisi dakwah mengatakan bahwa kita harus bertoleransi demi menjaga keutuhan ummat. Apakah mereka berusaha menutup mata ketika ahlu sunnah dibantai di negara yang mayoritas syi&#8217;ah, ulamanya dipenjara dan disiksa? Apa sikap ananda terhadap mereka? Padahal mereka itu senantiasa menghujat para shahabat Nabi? Bagaimana kalau banyak kaum muda yang tertarik masuk syi&#8217;ah? Sungguh ananda tidak sedang berusaha membela agama ananda, tidak sedang berupaya memurnikan Islam. Ananda tidak sedang menyelamatkan ummat ini, apa sebenarnya yang sedang ananda selamatkan?</p>
<p><strong>K: Mmmm&#8230;..</strong></p>
<p>S: Baiklah, katakanlah ternyata ada devisi dakwah sebuah partai yang berani berkata seperti itu, walaupun saya belum melihatnya di Indonesia saat ini. Lalu, manakah yang lebih baik, berdakwah dengan membawa-bawa nama partai, berbaju dengan baju partai, atau berdakwah dengan tidak mengatasnamakan kelompok tertentu. Kira-kira manakah dakwah yang mudah diterima oleh masyarakat Indonesia? dan lebih dicintai Allah?</p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p>S: Ananda, justru tanggungjawab ada di pundak ananda sebagai juru dakwah. Saat kampanye, adalah saat ananda pertama kali berjumpa dengan kaum muslimin dan mungkin tidak akan pernah lagi ananda berjumpa dengan mereka. Mengapa ananda tidak berusaha menyelamatkan mereka dengan hal-hal yang pokok? Padahal masalah sesungguhnya yang hakiki yang sedang menyelimuti mereka adalah sesuatu yang akan mejerumuskan mereka ke dalam neraka? Yaitu syirik dan penyimpangan ibadah. Adakah masalah yang lebih besar dari itu sehingga ananda mengesampingkannya? Inilah yang saya maksud dengan realita yang kedua. Yaitu bahwa dakwah demokrasi akan menghambat penyampaian kebenaran dengan alasan untuk kerukunan ummat (bukan persatuan ummat lho!).</p>
<p><strong>K: Pak Sholeh, apa yang akan Bapak nasehatkan untuk diri saya?</strong></p>
<p>S: Ananda, demokrasi adalah sesuatu yang dharuri. Begitu (bahkan) kata sebagian ulama yang membolehkan demokrasi. Namun herannya ada diantara kaum muslimin yang bangga dengan julukan pejuang-pejuang demokrasi. Padahal, apabila kita melihat prinsip-prinsip demokrasi, maka semakin suatu negara menuju kepada kesempurnaan demokrasi, maka setiap orang akan semakin bebas untuk mengeluarkan ide dan pendapatnya.</p>
<p>Ananda, sekarang ananda tinggal memilih salah satu dari dua jalan. Ada jalan demokrasi dan ada jalan dakwah nubuwwah. Namun keduanya bagaikan keping mata uang yang saling berseberangan. Yang satu penuh toleransi dan ada padanya pengorbanan akidah, yang satunya penuh ketegasan dan lebih dekat kepada terselamatkannya akidah. Tentu pada kedua jalan itu ada kesempatan kita untuk beribadah dan berjuang secara maksimal. Pada keduanya juga ada manfaat bagi kaum muslimin, tergantung jenis manfaat apa yang akan diperjuangkan. Gunakanlah bashiroh serta hikmah yang mendalam. Ananda bebas memilih salah satu dari kedua jalan itu. Pilihlah jalan yang dapat menyelamatkan ananda sendiri dan kaum muslimin dari adzab neraka, dan terus berjuang menjaga kemurnian/kesempurnaan Agama Islam. Juga nasehat saya, takutlah untuk tidak melanggar/mengorbankan hukum-hukum Allah dalam memperjuangkan kebenaran tersebut.</p>
<p>Apapun yang menjadi keputusan ananda, maka hal itu tidak boleh menyebabkan perpecahan dengan orang yang berseberangan dengan ananda. Apalagi tentunya kalau ananda memilih jalan demokrasi, ananda tentu akan lebih bisa menghargai pendapat orang lain. Persatuan tetap merupakan perintah dari Allah. Berta&#8217;awuun untuk amar ma&#8217;ruf nahi mungkar bersama setiap orang Islam tetap merupakan perintah Allah.</p>
<p>Tak terasa waktu sudah mendekati adzan maghrib. Kebetulan terlihat Pak Ahmad (ketua salah satu partai Islam) datang ke mesjid untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib. Mereka berdua segera menghampirinya. Pemuda Khoriul membuka percakapan:</p>
<p><strong>K: Assalamu&#8217;alaikum Pak Ahmad?</strong></p>
<p>Pak Ahmad (A): Wa&#8217;alaikumussalam, eh Nak Khoirul dan Pak Sholeh. Apa kabar nih?</p>
<p><strong>K: Alhamdulillah kami berdua baik-baik saja. Maaf kami sengaja menghampiri Bapak untuk menyampaikan sesuatu.</strong></p>
<p>A: Ah, kok terasa formal sekali. Apa yang akan ananda sampaikan Nak Khoirul. Jangan membuat Bapak kaget ya!</p>
<p><strong>K: Tidak Pak. Kami cuma ingin menyampaikan bahwa dalam menghadapi Program kristenisasi &#8220;Jusuf 2004&#8243;, saya dan Pak Sholeh siap menyampaikan masalah ini di masjid-masjid, masjlis ta&#8217;lim, pesantren-pesantren yang biasa kami dakwah di dalamnya.</strong></p>
<p>A: Masya Allah&#8230;.Masya Allah&#8230;.Bapak sangat bersyukur sekali Nak Khoirul. Ini merupakan suatu nikmat yang paling berharga yang Bapak peroleh hari ini. Mudah-mudahan keinginan ananda dan Pak Sholeh diridhoi Allah. Teman-teman di partai pasti akan sangat senang sekali mendengarnya. Oya, apakah ini berarti Nak Khoirul dan Pak Sholeh akan bergabung dengan partai kami, memakai baju kami?</p>
<p>Pemuda Khoirul tidak menjawab. Matanya beradu tatapan dengan Pak Sholeh. Saling memandang dan terdiam bisu. Dia tidak bisa menjawab. Teringat semua argumentasi Pak Sholeh tentang demokrasi. Tentang bagaimana prinsip bebas berpendapat, menghargai pendapat, yang justru memberikan kesempatan kpd orang jahat untuk menghalangi kebenaran dengan mengatasnamakan HAM, tentang bagaimana setiap partai harus mendulang suara, padahal jumlah orang baik di akhir zaman itu hanya sedikit. Teringat kembali betapa akan banyak pencampuran antara yang hak dan yang batil. Teringat kembali akan sifat-sifat hizbullah, yang diantaranya adalah keras terhadap orang kafir dan berkasihsayang dengan sesama muslim. Teringat akan adanya kemustahilan dalam pencapaian kemenangan melalui kompromi/toleransi. Teringat bagaimana kemenangan hakiki itu bisa dipetik hanya dengan jihad, bukan dengan kompromi atau toleransi.Teringat akan kaum muslimin yang sedang berkubang dalam lumpur syirik dan penyimpangan ibadah. Teringat bagaimana demokrasi akan menghambat penyampaian kebenaran dengan alasan kerukunan ummat. Teringat akan persatuan ummat secara jasadi warruhi. Teringat akan wasiat Rasulullah kepada orang-orang yang hidup di akhir zaman untuk menjauhi semua kelompok yang ada dan wasiat untuk ruju&#8217; (kembali) kepada Kitabullah, Sunnah Rasul dan Ijma para shahabat. Teringat akan makna &#8220;kembali&#8221;, yaitu dengan menyampaikan pendidikan kepada ummat (tarbiyyah) dan memurnikan agama Islam (tashfiyyah).</p>
<p>Adzan Maghrib nyaring berkumandang. Pemuda Khoirul belum juga memberikan jawaban. Dirasakannya betul bagaimana reaksi Pak Ahmad kalau dia harus mengatakan &#8220;tidak!&#8221;. Tentu akan panjang sekali penjelasan yang harus disampaikan, akan sulit sekali difahami, dikaji dan diputuskan, akan ada kembali sebuah diskusi yang panjang dan melelahkan, diskusi tentang sebuah dilema bagi ummat Islam. Dilema yang seolah di dalamnya ada kebaikan namun ada juga keburukan yang ganas. Dilema yang menjadi perdebatan kaum muslimin di akhir zaman. Dilema yang terkadang menjadikan perdebatan menjurus kepada tidak saling menghargai pendapat. Dilema yang butuh kehati-hatian dan bashiroh mendalam dalam memahaminya. Dilema yang sangat melelahkan. Dilema Simalakama !</p>
<p align="right"><em><strong>Oleh: Abu Lubna</strong><br />
Dhahran-Saudi Arabia, Ahad 22 Sha&#8217;baan 1424 H.<br />
</em><em>Sumber: <a target="_blank" href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/05/28/dilema-simalakama/">assunnahsurabaya</a></em></p>
<p align="right">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=47</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lowongan PLN SUMSEL 2008</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=45</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=45#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 02:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lowongan]]></category>

		<category><![CDATA[lowongan PLN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[

 

KESEMPATAN KERJA !
  Mari bergabung, berkembang dan meniti karir bersama PT PLN (Persero) dengan mengisi posisi Bidang Teknik (Operator, Teknisi Pemeliharaan Distribusi dan Pembangkitan) dan Bidang  Administrasi (Akuntansi, Tata Usaha Langganan dan Kesekretariatan) di lingkungan PT. PLN (Persero) Wilayah S2JB dan Pembangkitan Sumbagsel.


  

Persyaratan Umum :

Test / seleksi penerimaan dilaksanakan di Palembang
Kelahiran  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 10" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 10" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><br />
<style><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 24pt; font-family: Arial; color: navy" lang="IN">KESEMPATAN KERJA !<o:p></o:p></span></strong></p>
<p>  <span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'; color: navy" lang="IN">Mari bergabung, berkembang dan meniti karir bersama PT PLN (Persero) dengan mengisi posisi <strong>Bidang Teknik</strong> (Operator, Teknisi Pemeliharaan Distribusi dan Pembangkitan) dan <strong>Bidang<span>  </span>Administrasi</strong> (Akuntansi, Tata Usaha Langganan dan Kesekretariatan) di lingkungan PT. PLN (Persero) Wilayah S2JB dan Pembangkitan Sumbagsel.</span><span id="more-45"></span></p>
<p><meta name="Generator" content="Microsoft Word 10" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 10" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><br />
<style> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1804419610; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-570014878 -1805121500 1223033678 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-ansi-font-weight:normal;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:1.0in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:"Arial Narrow"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:1.5in; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><u><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Persyaratan Umum</span></u></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"> :<o:p></o:p></span></p>
<ol style="margin-top: 0in" start="1" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Test / seleksi penerimaan dilaksanakan di Palembang<o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Kelahiran<span>  </span>1987 dan      setelahnya <o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Berbadan sehat dan tidak buta warna<o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Tidak mempunyai ikatan dengan instansi lain<o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Tidak menerima beasiswa pendidikan dari instansi lain yang bersifat      mengikat<o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Tidak mempunyai ketunaan fisik yang dapat mengganggu pekerjaan<o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Belum menikah dan sanggup tidak menikah selama menjadi Siswa Diklat      Prajabatan<o:p></o:p></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Mempunyai ijasah SMK dan SMU IPA dengan ketentuan sbb :<o:p></o:p></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.25in"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">- <span>    </span><strong>SMU IPA dan SMK Jurusan Listrik dan Mesin</strong><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.25in"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span> </span><span>     </span>Nilai UAN Matematika Minimal 7<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.65pt"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Nilai Rata – rata Raport pada 1 Tahun terakhir untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Fisika masing-masing minimal 7<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -14.2pt"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">        </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">SMK Jurusan Akuntansi<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.25in"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>      </span>Nilai UAN Matematika Minimal 7<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.65pt"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Nilai Rata – rata Raport pada 1 Tahun terakhir untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Akuntansi masing-masing minimal 7<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -14.2pt"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">-<span>     </span><strong>SMK Jurusan Administrasi Perkantoran/Sekretaris<o:p></o:p></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.25in"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>      </span></span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Nilai UAN Matematika Minimal 7<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.65pt"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Nilai Rata – rata Raport pada 1 Tahun terakhir untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia masing-masing minimal 7<o:p></o:p></span></p>
<ol style="margin-top: 0in" start="9" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Semua Pengumuman/panggilan yang berkaitan dengan <o:p></o:p></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Rekrutmen ini menggunakan website PT PLN (Persero) Wilayah S2JB <strong><u>(http:/<a href="http://www.rekrutmen.plnpalembang.co.id/"><span style="color: windowtext">/rekrutmen.plnpalembang.co.id</span></a></u>)</strong><o:p></o:p></span></p>
<ol style="margin-top: 0in" start="10" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Pendaftaran ini dibuka mulai tanggal 1 Juli 2008 sampai dengan      tanggal 12 Juli 2008</span></li>
</ol>
<p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 10" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 10" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><br />
<style><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><u><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Cara mengajukan Lamaran </span></u></strong><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span> </span>:<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21pt; text-indent: -21pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><o:p> </o:p>1.<span>      </span>Pendaftaran dilakukan secara online melalui website <u>http:/<a href="http://www.rekrutmen.plnpalembang.co.id/"><span style="color: windowtext">/rekrutmen.plnpalembang.co.id</span></a><o:p></o:p></u></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21pt; text-indent: -21pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">2.<span>      </span>Direkomendasikan menggunakan browser Internet Explorer.<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21pt; text-indent: -21pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">3.<span>      </span>Berkas yang harus disiapkan saat melakukan pendaftaran secara online sebagai berikut :<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21pt; text-indent: -21pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>         </span>-<span>  </span>KTP<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21pt; text-indent: -21pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>         </span>-<span>  </span>Ijazah<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21pt; text-indent: -21pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>         </span>- <span> </span>Raport<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.35pt; text-indent: -28.35pt"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><span>         </span>-<span>  </span>File pas foto berwarna terbaru ukuran 4 x 6 (format .jpg max. 200 kb dengan nama file sesuai dengan nama pelamar, cth. siska_linawati.jpg)<o:p></o:p></span></strong></p>
<p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 10" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 10" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><br />
<style><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:2147356833; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1451283416 69271561 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.55in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.55in; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Wingdings;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><u><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">Lain-lain</span></u></strong><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"> :<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 2pt 0in 2pt 0.25in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 8pt; font-family: Wingdings" lang="IN"><span>v<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">       </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 2pt 0in 2pt 0.25in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 8pt; font-family: Wingdings" lang="IN"><span>v<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">       </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">HANYA YANG MEMENUHI PERSYARATAN YANG AKAN DIPANGGIL<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 2pt 0in 2pt 0.25in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 8pt; font-family: Wingdings" lang="IN"><span>v<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">       </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">TIDAK ADA KORESPONDENSI<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 2pt 0in 2pt 0.25in; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 8pt; font-family: Wingdings" lang="IN"><span>v<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">       </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN">KEPUTUSAN PANITIA TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: 'Arial Narrow'" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 10" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 10" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cnd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><br />
<style><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"ITC Zapf Chancery"; 	mso-font-alt:"Courier New"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:7 0 0 0 147 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: center" align="center"><strong><span style="font-family: 'ITC Zapf Chancery'" lang="IN">Informasi selengkapnya kunjungi website<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: center" align="center"><strong><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="IN">http://rekrutmen.plnpalembang.co.id<o:p></o:p></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=45</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya April Mop</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=43</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=43#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 06:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Realitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Segala pelanggaran dijalan baik naik motor/mobil jangan suap uang pada polisi biarpun ditawari damai krn itu pancingan. Lebih baik minta ditilang nanti diurus dipengadilan. Instruksi Kapolri kepada jajaran polisi, bagi yang bisa membuktikan warga yg menyuap polisi, dpt bonus 10 jt/warga, dan yang menyuap kena hukuman 10 th. Harap jangan main2. Info tsb byk yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3">&#8220;Segala pelanggaran dijalan baik naik motor/mobil jangan suap uang pada polisi biarpun ditawari damai krn itu pancingan. Lebih baik minta ditilang nanti diurus dipengadilan. Instruksi Kapolri kepada jajaran polisi, bagi yang bisa membuktikan warga yg menyuap polisi, dpt bonus 10 jt/warga, dan yang menyuap kena hukuman 10 th. Harap jangan main2. Info tsb byk yg tdk tahu, jadi polisi cari2 kelengahan kita biar menyuap, jangan terpancing menyuap Polisi&#8221;</font></p>
<p>Pesan diatas saat ini cukup sering saya terima di yahoo messenger. Tahukah Anda, bahwa pesan itu bohong? Sekarang adalah bulan April, dan bulan April bagi sebagian orang adalah bulan untuk bebas berbuat kejahatan dan kejahilan bahkan kebohongan. Budaya ini mereka sebut sebagai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/April_Mop" target="_blank">April Mop</a>.</p>
<p>Budaya impor ini ditiru, disebarkan dan dipelihara keberadaannya, sampai masuk ke dunia Internet. Para peniru itu tidak tahu, bohong adalah salah satu dosa besar. Islam tidak main-main dengan kebohongan. Bahkan bercanda pun tidak boleh dengan berbohong supaya orang-orang tertawa.</p>
<p>Yah, semoga yang baca tulisan ini ga ikut-ikutan deh.  Ya.. kerja-kerja.. manfaatin waktu buat yg berguna!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=43</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Komentar ttg wawancara dgn cracker anti UU ITE</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=42</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=42#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 03:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dari wawancara dgn cracker anti UU ITE disini, ane jd pingin komentar
"Coba liat deh negara tetangga (Malaysia), bagaimana pemerintahnya bisa nge-push ISP supaya
ngasih Internet murah, supaya rakyatnya ngga gaptek."
Haa&#8230; apa hanya dengan Internet rakyat jadi ga gaptek??.  Apa dengan buka friendster..chatting.. web-web porno.. rakyat lantas jadi pinter? Maka dari itulah perlu UU, supaya yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari wawancara dgn cracker anti UU ITE <a href="http://http://ezine.echo.or.id/ezine18/e18.007.txt" target="_blank">disini</a>, ane jd pingin komentar</p>
<pre>"Coba liat deh negara tetangga (Malaysia), bagaimana pemerintahnya bisa nge-push ISP supaya
ngasih Internet murah, supaya rakyatnya ngga gaptek."</pre>
<p>Haa&#8230; apa hanya dengan Internet rakyat jadi ga gaptek??.  Apa dengan buka friendster..chatting.. web-web porno.. rakyat lantas jadi pinter? Maka dari itulah perlu UU, supaya yg jelek2 di filter, yg baek-baek aja masuk.</p>
<p>Emang bicara pendidikan hanya lewat Internet? Kalo kata Kak Seto &#8220;kalo bicara pendidikan, matikan televisi&#8221; maka aku kan bilang, &#8220;kalo bicara pendidikan yang baik, filter Internet&#8221;</p>
<p>Nyuruh buka bandwidth gede selebar-lebarnya, tanpa ada aturan. Sama aja kayak biarin pedagang kaki lima ngumpul banyak di pinggir jalan, baru kirim satpol PP buat ngusir.</p>
<p>UU itu perlu buat jaminan hukum bung! Supaya transaksi online di Indonesia juga bisa berkembang. Bukan website porno lokal nya yg semakin banyak. Negara komunis aja bisa, kenapa di Indonesia ga bisa.</p>
<p>Apa dengan men-deface website Golkar &#038; Kominfo akan jadi masukan positif buat Pemerintah? Kalo memang pinter, kenapa ga kasih masukan komentar yg positif. Mana bagian UU yg mengganggu kepentingan Anda? Kita liat dulu hasil dari UU ini, kalo kurang baik atau ada yg merugikan rakyat, kumpulin komunitas maya, ajak diskusi, beri masukan sama pemerintah.</p>
<p>Kalo pemerintah mau bergerak sedikit aja sudah maen deface&#8230; Mau sampe kapan negara ini sibuk dgn pengrusakan?  Kayaknya sengaja negara ini dibikin sibuk, supaya ga sempat lagi tuk memikirkan pembangunan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=42</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Sesuatu Yang Tidak Terdapat Dalam Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=41</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=41#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 01:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Sesuatu Yang Tidak Terdapat Dalam Al-Qur&#8217;an
http://www.almanhaj.or.id/content/1361/slash/0
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang melakukan pembenaran terhadap amalan dan perbuatannya yang jahat, seperti merokok atau yang semcamamnya dengan alas an bahwa hal tersebut tidak terdapat dalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah di dalamnya, maka bagaimana Syaikh menasehati mereka ?
Jawaban
Sesungguhnya merupakan sesuatu hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hukum Sesuatu Yang Tidak Terdapat Dalam Al-Qur&#8217;an<br />
http://www.almanhaj.or.id/content/1361/slash/0<br />
Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang melakukan pembenaran terhadap amalan dan perbuatannya yang jahat, seperti merokok atau yang semcamamnya dengan alas an bahwa hal tersebut tidak terdapat dalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah di dalamnya, maka bagaimana Syaikh menasehati mereka ?</p>
<p>Jawaban<br />
Sesungguhnya merupakan sesuatu hal yang wajib diketahui bahwa agama Islam disyari&#8217;atkan sejak diutusnya Nabi hingga datangnya hari kiamat. Seandainya setiap kejadian yang terjadi itu dinashkan dalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, maka tentulah Al-Qur&#8217;an akan menjadi berjilid-jilid tanpa batas, dan As-Sunnah pun akan menjadi seperti itu.<span id="more-41"></span></p>
<p>Akan tetapi syariat Islam -salah satu kekhususannya- adalah ia merupakan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip umum. Dan masuklah ke dalam kaidah dan prinsip umum ini berbagai masalah (juz&#8217;iyat) yang tak dapat dihitung kecuali oleh Allah Azza wa Jalla. Maka (dalam masalah rokok ini) hendaklah kita merujuk kepada firman Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu&#8221;. [An-Nisa : 29]</p>
<p>Kita merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan&#8221;. [An-Nisa : 5]</p>
<p>Rujuk pula sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidak ada kemudharatan dan tidak (boleh) menyebabkan mudharat (kepada orang lain)&#8221;. [1]</p>
<p>Ini merupakan kaidah-kaidah umum, yang dapat kita terapkan pada masalah rokok dan yang semacamnya.</p>
<p>Maka rokok termasuk sebab yang mematikan, dan merujuklah kepada hasil-hasil penelitian yang memperhatikan masalah ini, berapa banyak yang meninggal akibat mengisap rokok setiap tahunnya ? Dengan demikian, berarti termasuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian&#8221;. [An-Nisa : 29]</p>
<p>Mengisap rokok juga membuang-buang harta, karena seseorang tidak mendapatkan faidah sedikitpun darinya. Dan Allah telah menyebut harta sebagai qiyaam (pendukung) untuk manusia.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan&#8221;. [An-Nisa : 5]</p>
<p>Yang dengannya kalian dapat menegakkan kemaslahatan kalian, maslahat Ad-Din dan dunia, sementara mengisap rokok dan yang semcamnya sama sekali tidak mengandung maslahat secara agama demikian pula secara duniawi</p>
<p>Dan marilah kita merujuk kepada sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidak ada mudharat dan tidak (boleh menimpakan) kemudharatan kepada orang lain&#8221;.</p>
<p>Dan ternyata kita menemukan rokok membahayakan/mendatangkan kemudharatan berdasrkan kesepakatan para dokter saat ini, oleh karena itu sebagian Negara-negara maju telah melarang pengiklanannya di depan umum -“walaupun (Negara-negara) itu adalah Negara kafir- karena mengetahui mudharatnya. Dengan demikian rokok termasuk dalam sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidak ada kemudharatan dan tidak (boleh) mendatangkan kemudharatan&#8221;</p>
<p>Dan tidak perlu untuk menyebutkan nash (khusus) dalam masalah ini, karena boleh jadi akan terjadi lagi banyak hal yang serupa dengannya.</p>
<p>Dan boleh jadi pada abad-abad pertengahan telah terjadi banyak hal yang tidak kita ketahui, namun salah satu keitimewaan Dinul Islam serta nash-nash syar&#8217;i adalah ia berupa kaidah-kaidah umum, yang masuk kedalamnya berbagai masalah yang tak dapat dihitung kecuali oleh Allah hingga tiba hari kiamat.</p>
<p>[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Zainal Abidin Lc, Penerbit Darul Haq]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Hadits Riwayat Ibnu Majah no 2340 dan 2341, Ahmad 1/313 (2867 menurut urutan Ahmad Syakir). Ahmad Syakir berkata : &#8220;Sanadnya lemah disebabkan kelemahan Jabir bin Al-Ju&#8217;fiy, namun maknanya shahih dan tsabit dengan sanad yang shahih (dalam riwayat) Ibnu Majah juga hadits Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu &#8216;anhu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=41</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian: Penjelasan Kalimat Syahadat</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=40</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=40#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 07:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nurhidayat.net/wp-content/uploads/2008/03/6-apr-08-syarah-syahadat-vendor.jpg" alt="Syarah Kalimat Syahadat" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=40</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar duka dari Jakarta</title>
		<link>http://nurhidayat.net/?p=38</link>
		<comments>http://nurhidayat.net/?p=38#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 10:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurhidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhidayat.net/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Senin pagi ini, kabar yang mengejutkan keluar dari milis internal dan dari suara paging kantor. Telah meninggal seorang rekan kerja kami di Kantor PUSRI Jakarta.
Seorang rekan yang saya kenal sewaktu ditugaskan disana. Seorang yang saya kenal ramah, tak disangka begitu cepat dipanggil Yang Maha Kuasa.
INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROOJI’UN
Telah meninggal dunia rekan kita :
Bpk. Supardi Miharjo, SP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin pagi ini, kabar yang mengejutkan keluar dari milis internal dan dari suara paging kantor. Telah meninggal seorang rekan kerja kami di Kantor PUSRI Jakarta.</p>
<p>Seorang rekan yang saya kenal sewaktu ditugaskan disana. Seorang yang saya kenal ramah, tak disangka begitu cepat dipanggil Yang Maha Kuasa.</p>
<p>INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROOJI’UN</p>
<p>Telah meninggal dunia rekan kita :</p>
<p>Bpk. Supardi Miharjo, SP (usia 29 th)<br />
Badge : 04.1020<br />
Staf Dept. Renbangsargi Pemasaran Jakarta</p>
<p>Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, terimalah amal ibadahnya, dan tabahkanlah keluarga yang ditinggalkannya.</p>
<p>Selamat jalan Mas Pardi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhidayat.net/?feed=rss2&amp;p=38</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
