Kajian.Net

Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib



Dracula:Fakta yang Menjadi Fiksi

(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku “Dracula, Pembantai Umat Islam dalam
Perang” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Oleh: Ragil Nugroho

Sejarah semestinya menjadi cermin paling jernih bagi umat manusia untuk menatap
masa depan. Tetapi bagaimana kalau sejarah telah dibelokan oleh kelompok
pemenang?

Sejarah Superhero
Filsuf dan sekaligus aktivis gerakan kiri Italia, Antonia Gramsci, dalam
teorinya tentang hegemoni (peracunan kesadaran), mengungkapkan bahwa seringkali
sejarah ditentukan oleh kekuasaan yang menang. Sejarah semacam ini akan memuja
kelas yang berkuasa dan sekaligus mencemooh kelas yang kalah; ia hanya akan
berbicara tentang para raja bukan tentang para kawula. Akibatnya, kelas yang
subaltern (dikalahkan) harus berada di luar gelanggang sejarah, yang artinya
tidak mempunyai peran apa-apa dalam sejarah. Sehingga tepat kalau sejarah jenis
ini disebut sejarah “Superhero”.

Lebih lanjut Gramsci dalam bukunya yang cukup fenomenal, Notes on Italian
History (1934), menuturkan bahwa sebetulnya kelas subaltern—mereka ini terdiri
dari petani, buruh, kaum miskin perkotaan, gelandangan dan kelompok-kelompok
lain yang termarjinalkan— mempunyai sejarah sendiri yang tidak kalah kompleksnya
dengan sejarah kelas yang berkuasa. Akan tetapi, akibat posisi yang tertindas
membuat mereka tak bisa menuliskan sejarah mereka sendiri dan harus menerima
“sejarah resmi” yang dibuat oleh kelas yang berkuasa.

Teori yang dikemukan Gramsci di muka sangat tepat untuk melihat penulisan sejarah
yang dominan dewasa ini. Apa yang dikatakan oleh Gramci itu tampak demikian
kasat mata. Di antara sekian banyak negara, Amerika Serikat merupakan salah satu
negara yang gemar memproduksi sejarah superhero. Agar gampang melihat
fakta-faktanya tengok saja film-film produksi mereka seperti Supermen, Batman,
Rombo dan lain sebagainya. Dalam kasus film Rambo misalnya, terlihat dengan
jelas bagaimana Amerika Serikat ingin selalu menjadi bangsa pemenang walaupun
mereka mengalami kekalahan telak di Vietnam. Mereka ingin tetap menjadi
superhero walaupun sebetulnya telah terpuruk. Selaian yang dilakukan oleh
Amerika Serikat, sejarah superhero bisa dilihat dari sejarah para
diktator—semisal Stalin, Hilter, Mao. Para diktator tersebut berusaha
mengagung-agungkan sejarahnya sendiri agar diri mereka layak disebut superhero.
Apabila ada sejarah yang berlawan dengan yang mereka mauni maka akan dibungkam
untuk selama-lamanya.

Dalam khazanah penulisan sejarah di Indonesia sejarah superhero juga akan banyak
kita dapatkan. Para penguasa berusaha agar nama mereka digoreskan dengan tintas
emas, sebagai pahlawan, sementara musuh-musuh mereka harus dikutuk menjadi
manusia jahat atau menjadi hewan. Hal ini terlihat jelas dalam sejarah para raja
pada masa feodal. Erlangga misalnya, menjadikan Calon Arong—musuh
politiknya—sebagai tukang sihir yang suka mandi darah. Senopati juga melakukan
hal serupa, dengan tipu daya khas seorang Machialevis, menuduh Ki Ageng Mangir
sebagai pemberontak yang layak dibunuh. Atau, bagaimana Sangkuriang dikisahkan
dalam wujud manusia yang berubah menjadi seekor anjing akibat penentangannya
terhadap kekuasaan yang dominan saat itu. Melangkah pada zaman yang lebih
modern, sejarah superhero ini terus berlanjut. Hal ini sangat kesat mata ketika
Soeharta berkuasa. Ia buat sejarahnya sendiri sebagai pahlawan dalam Serangan
Umum 1 Maret dan sebagai penumpas gerombolan liar PKI
yang katanya akan merongrong Pancasila. Sebagaimana para leluhurnya yang gila
akan nama kebesaran—raja- raja Mataram selalu bergelar Hamengkubuwona (pemangku
dunia) dan Pakubuona (paku dunia)—Soeharto pun mengangkat dirinya sebagai Bapak
Pembangunan. Sejarah-sejarah seperti inilah yang menjadi “sejarah resmi” di
Indonesia hingga saat ini. Bisa dikatakan bahwa manusia Indonesia sejak dalam
kandungan sampai akan menjemput ajal dicecoki oleh sejarah superhero.

Dalam bandul sejarah yang condong pada sejarah superhero itulah bayang-bayang
mitos begitu kuatnya sehingga menelan fakta. Ia telah menelusup pada pola pikir
masyarakat. Mitos-mitos baru pun terus-menerus direproduksi. Tak sadar bahwa
mitos-mitos tersebut telah melenakan dan semakin melapukkan sejarah itu sendiri.

Penjajahan Sejarah
Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Orientalisme, Erdwad W Said, memaparkan
tentang dominasi Barat dalam menciptakan pandangan tunggal. Ia memaparkan bahwa
Barat membuat penilian tentang Timur. Dalam pandangan Barat, Timur merupakan
sekumpulan bangsa irasional, lemah-lembut dan eksotis. Sedangkan dalam
memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri mereka menyebut sebagai bangsa
yang rasional, penuh perhitungan dan dinamis. Dengan penilian seperti itu bangsa
Barat ingin memberikan citra bahwa mereka berbeda dengan bangsa lain yang ada di
Timur.

Tak terasa, penilian yang dilakukan oleh Barat tersebut termakan oleh
bangsa-bangsa Timur. Mereka menjadi alpa menilai diri mereka sendiri dan
menyerahkan semuanya terhadap Barat. Mereka memandang diri mereka lebih rendah
dari Barat. Mereka merasa tak layak hidup sejajar dengan Barat. Dari proses
seperti inilah penjajahan sejarah bermula, dan kemudian berujung pada penjajahan
sebuah bangsa.

Memang masih jarang yang mengupas penjajahan sejarah ini. Para aktivis maupun
intelektual selama ini gaduh berdebat tentang penjajahan ekonomi dan politik,
masih jarang memperdebatkan penjajahan sejarah ini. Padahal penjajahan sejarah
tak kalah berbahaya dari bentuk-bentuk penjajahan yang lainnya. Apabila hal ini
tak dilawan maka apa yang pernah dikatakan Milan Kundera, “maka tak lama setelah
itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa
lampau, akan benar-benar mewujud.

Sebuah bangsa yang telah terjajah sejarahnya akan tumbuh menjadi bangsa yang
rapuh. Mereka akan kehilangan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Mereka akan
lupa tentang jati dirinya. Maka ketika suatu bangsa sudah kehilangan kepercayaan
diri dan buta akan dirinya sendiri, ia akan mudah terombang-ambing. Akibatnya,
sebagai pegangan mereka akan berpegangan pada bangsa yang menurut mereka lebih
“kuat” dan “maju”. Dan, secara tak sadar mereka telah jatuh pada cengkraman
negara lain.

Penjajahan sejarah ini sangat efektif untuk melakukan penjajahan terhadap sebuah
bangsa secara keseluruhan. Sebagai contoh adalah yang akhir-akhir ini
digembor-gemborkan oleh AS dan sekutunya tentang terorisme. Mereka menciptakan
sejarah baru bahwa Afganistan dan Irak merupakan sarang teroris. Dengan sejarah
rekaan tersebut telah melapangkan jalan bagi mereka untuk melakukan
invasi/penjajahan. Alasan mereka yang sebenarnya—menguasi sumber minyak di Timur
Tengah—bisa mereka tutup-tutupi dengan dalih mengejar gembong teroris.

Arnold Toynbee dalam karyanya Mankind and Mother Earth A Narrative History of
Word (1975), memberikan pemaparan bahwa penjajahan sejarah telah membuat sejarah
hanya berisikan masa lalu yang mengarah pada kuasa pengaruh Barat. Akibatnya,
peristiwa-peristiwa masa lalu lainnya dianggap tidak relevan dan karena oleh itu
bisa diabaikan. Lebih lanjut Toynbee memberikan uraian bahwa akibat westernisasi
sejarah tersebut, negara-negara yang terbaratkan menjadi subordinat dan
terpinggirkan.

Membongkar Sebuah Kebohongan
Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang
begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang
kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula
merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula
dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian
semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of
Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)—yang dibuat ulang
pada tahun 1979—dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya
Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini
dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul.
Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari
menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan
antara Kerajaan Turki Ottoman—sebagai wakil Islam—dan Kerajaan Honggaria—sebagai
wakil Kristen—semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling
mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang
berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya
Konstantinopel— benteng Kristen—ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan
Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat
Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000
ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara—yang
cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab—yaitu dibakar hidup-hidup,
dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara
penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu
sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah
ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut,
kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan
berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:
“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai.
Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang
telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan
segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini
sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi
mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi.
Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat
begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang
di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini
disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab.
Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa
dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib
menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang
getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok
mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang
sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun
kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat
ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar
sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang
segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa
sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya
fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang
sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok
Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini
dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat—khususnya umat Islam sendiri—yang
mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa
dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa
dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang
sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia
juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui
bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari
dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda
tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan
simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh
mereka—pahlawan dari pihak Islam—dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas
mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan
Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan
penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah
mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan
ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa
mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa
dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan
Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling
superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha
Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam
Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama
tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas.
Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan
jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang
Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu
penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang
lain—politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara
halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di
dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat
dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku
karya Hyphatia ini—walaupun masih merupakan langkah awal—bisa dijadikan
pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan
sejarah itu begitu nyata ada di depan kita. [*]

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>